Thursday, 19 January 2017

Work city of Timika Papua


"Tanah Papua.. Tanah yang kaya,, Surga kecil jatuh ke Bumi... Hitam kulit keriting Rambut.. Ohh Aku Papua... Biar nanti langit terbelah..." Pernah dengar lagu om Frangky Sahilatua ini? Siapa yang tidak kenal dan terhipnotis dengan lagu terutama keindahan alam dan etnik kehidupan Papua..?? Pernah membayangkan menginjakkan kaki di tanah papua? Yaa itu impian kami para pelancong... Tapi di mana dulu... Raja ampat? Biak? semua itu surganya tanah leluhur ini dengan keindahan bawah lautnya yang luar biasa... Tapi takdir itu membawaku kesini Kota Timika Papua Tembagapura. pertama kali saya menginjak kaki di tanah Papua, dengan sebuah pilihan yang sulit, saya berada disini. Begitu pula ketika saya akan meninggalkan tanah papua ini.   



Papua merupakan Provinsi terbesar Indonesia. Saya berada di Kota Timika yang merupakan ibu kota dari kabupaten mimika. Mendarat di Bandara Nasional yaitu Bandara Moses Kilangin. Bandara ini di dedikasikan untuk merencanakan dan membangun proyek Tembagapura PT. Freeport Indonesia.
Yaaa Blaablaablaa tentang Timika cari saja di wikipedia cause I'm not tashyapedia hahaha...  

Sudah setahun cerita ini ada di Draftku.. Jelas keinginan terbesarku untuk menyelaesaikan tulisan ini tapi yah karena alasan yang A IU dan E juga O, saya sampai tidak tahu mau menulis apa. Ini pertama kalinya saya menginjakan kaki di tanah papua,  tidak banyak yang dapat ditemui di Timika, karena itu kusebut Kota Kerja, karena tidak ada hiburan dan apa-apa disini, seperti kota besar yang ramai ataupun kota pedalaman yang dipenuhi keindahan alamnya, Hampir semua orang yang datang kesini hanya untuk bekerja. Tapi memang dasar kaki gatal dan banyak jalan, itu semua tidak mengurungkan niatku untuk melihat sedikit tentang Kota Timika ini. Hingga kutemukan pesona yang terbelengu di kota ini...
 
Saya berada di Timika hanya 10 hari, tidak lama untuk bisa kemana-mana tapi menurutku saya cukup kemana-mana hahaha karena saya datang bukan untuk traveling tapi kerja yang menyerempet treveling dikit hehehe... Namanya Papua, tapi berasa Indonesia, segala suku bangsa tinggal di Papua secara berkelompok dan menamakan diri mereka, Para Perantau. Biaya hidup di Timika sangat tinggi, mungkin karena ada freeport. Saya makan lalapan saja 45ribu/porsi hahaha... Sudah saya bilang tak banyak tempat wisata di Timka, bahkan bandaranya pun bisa jadi tempat wisata. Dihiasi dengan patung tokoh pemuka suku, Ban alat berat sebagai simbol timika dan alat beratnya sendiri. Saya tidak foto di alat beratnya karena sudah bosan lihat alat berat hahahaha....
Ketemu sama Om Mozes kilangin yang selalu nongkrong didepan bandara, gayanya ketje badai pake jas plus tongkat dan topi ala-ala Charlie Chaplin yang terkenal dengan kata mutiaranya "Hendaklah kamu hidup saling sayang menyayangi, hormat menghormati, rendah hati dan senantiasa bekerjalah dengan jujur, adil dan sungguh-sungguh dan bijaksana, karena setiap perbuatanmu yang baik akan diberkati Tuhan". Kata-kata ini sebagai suatu pegangan orang papua dan menjalani kehidupan dengan sesama manusia. 


Ohyaa apa itu sesuatu yang terbelengu di kota ini? satu hal yang menjadi harta karun tersembunyi Kota Timika yaitu Freeport, yahh menurutku tersembunyi karena tidak bisa di akses masuk oleh orang awam kecuali oleh pegawai Freeport karena mereka memiliki kartu ID yang dijadiin syarat masuk ke lokasi Freeport yang dirancang begitu apik bagai berada di negara lain. Namun ada kawasan yang disebut Kuala Kencana, yang merupakan area perkantoran dan pembelajaan freeport. Begitu masuk di kawasan Kuala kencana, serasa berada sebuat kota lain yang di tata begitu rapih dan luar biasa seperti halnya di luar negeri, begitu jauh beda dengan kota Timika. Penjagaan Keamanan di Kuala kencana sangat ketat, karena untuk masuk saja perlu pemeriksaan KTP.

Begitu melewati gerbang depan, kita akan melewati jalanan aspal yang mulus dengan median jalannya berupa jejeran lampu dan kiri kanan di hiasi dengan hutan lebat. Hutan-hutan ini masih merupakan hutan belantara yang di berikan jalur jalan setapak untuk bisa di akses oleh orang yang ingin berjalan-jalan ke hutan. Namun ada peraturan ketat, bahwa jika ingin masuk ke hutan harus minimal 2 orang, agar jika terjadi apa-apa di dalam hutan, masih ada satu orang lagi yang bisa keluar untuk meminta pertolongan. Saat lewat saya melihat banyak bule yang jalan masuk ke hutan, yahh di Freeport memang banyak memperkerjakan orang asing. Setelah itu terlihatlah jejeran huruf besar bertulisankan KUALA KENCANA. Tidak jauh dari itu terdapat alun-alun kuala kencana yang begitu luas, bersih dan tertata begitu rapih dan indah bagai berada di dunia lain hahaha... karena jika di bandingkan begitu berbeda dengan tampilan kota Timika itu sendiri. 

Begitu masuk di kawasan alu-alun Kuala kencana terdapat Supermarket, Tempat ini untuk berbelanja namun terbatas., yah terbatas untuk berbagai hal sih.., ada 2 supermarket saling berdampingan,, Supermarket yang satu bebas di masuki oleh siapa saja namun barang-barang yang dijual begitu terbatas, sedangkan supermarket yang satunya menyediakan segalanya termasuk sayur dan buah-buahan segar yang sulit kita temui di kota timika sekalipun ada harganya sangat mahal dan tidak begitu segar, tapi.. hahaha ada tapinya.. untuk masuk kesana harus di akses mengunakan kartu ID pegawai Freeport atau visitor. Karena ada 2 security di depan yang menjaga, sebelum masuk melalui pintu yang dapat terbuka jika digesek dengan kartu ID hahahhaa ribet banget yaa.... Saat itu saya bisa masuk, karena meminjam ID visitor. Yahh begitu masuk, supermarket ini seperti carefour hahaha biasa saja menurutku dan harganya juga normal, bahkan itu semua tidak membuatku begitu niat untuk berbelanja hahahaha.. 

Ohyaa bercerita sedikit tentang isi Timika, saat sedang survey lokasi, kami pergi ke beberapa lokasi yang cukup pedalaman yahh saya bilang pedalaman karena ada beberapa yang tidak di jangkau oleh signal ponsel. Disepanjang jalan banyak orang-orang asli papua yang biasa disebut dengan Meno sebagai panggilan sayang buat mereka. Jalan dengan bertelanjang dada dan hanya memakai celana (untung tdk pakai daun hahaha..) sambil menenteng panah ataupun parang hahaha jujur buat orang awam seperti saya itu cukup mengkhawatirkan... Sebelum ke Timika, banyak informasi yang kudapatkan mengenai perang suku dan mungkin ini adalah salah satu wujud perlindungan diri mereka terhadap dunia luar. Project kami untuk mengerjakan rumah siap huni dari pemerintah buat mereka, tapi masih banyak kami temui rumah-rumah adat yang masih sabgat primitif..

hahahaha ada cerita lucu yang agak mengerikan... Saat mobil kami sampai di lokasi, saya melihat ada seorang Meno yang mengamati dari jauh,, kami langsung berjalan menuju lokasi, namun ada seorang teman yang tinggal untuk berjaga di mobil, yang kemudian didatangi dan diajak ngobrol oleh meno.. begitu kami selesai dan kembali, si Meno berteriak : "kaka kasi saya jua itu perempuan.." 
buset gue langsung syokk dan buru-buru masuk ke mobil.. karena hanya saya satu-satunya perempuan disitu hahaha.. lalu saat perjalanan pulang, di mobil temanku cerita, si meno datang dan tanya, "itu perempuan sudah kawin kah, klo belum kasi saya jua,," dan temanku menjawab " klo dia mau ko ambil jua kaka.." temanku bilang "coba saya iyakan pasti dia langsung tarik tasya itu..." hahahhaha anjrittt... makanya pas saya balik dia teriak gitu.. buset dahhh hahahha ketawa tidak berhenti, tapi tetap  bersyukur masih pulang dengan utuh hahahaha... 
Begitulah Papua dan itulah Timika, entah bagaimana isi dan pesona kawasan Tembagapura, seandainya lama sedikit saja mungkin saya bisa melihatnya, Namun mungkin saya hanya berjodoh untuk mengunjungi Tanah Papua ini bukan untuk tinggal di dalamnya. 

Inilah Timika... Kota para pekerja dan pencari Dollar..  




No comments:

Post a Comment