Wednesday, 14 September 2016

Tanjakan Atap Sulawesi 3478 MDPL, Puncak Rantemario, Gunung Latimojong




“Puncak ini adalah atap Sulawesi, seharusnya manusia belajar bahwa semakin tinggi, semakin merunduk“ Sepengal kalimat yang terukir disalah satu plat yang menjadi asessoris tringulasi puncak rantemario. Atap Sulawesi, salah satu 7 puncak tertinggi di Indonesia, Gunung tertinggi di Sulawesi, semua atribut kebanggaan itu miliki Puncak Rantemario, Gunung Latimimojong. Namun desas-desus yang beredar akan Jalur yang sulit, tanjakan yang tak ada habisnya, udara dingin yang bisa membekukan, mitos-mitos sakralnya, kurangnya air di tiap pos, segala atribut kebanggaan itu diiringi pula dengan banyak ketakutan akan kesulitan yang harus dihadapi saat ingin menginjakkan kaki di puncak tertinggi Sulawesi ini. Tak pernah terbayangkan diriku bisa menapaki puncak 3478 MDPL ini, tapi takdir mengijinkan hal yang melampaui batas akal manusia, berjalan tak henti, menanjak dengan oksigen yang menipis, jalur bagai jurang keputusasaan, menyadari setiap kelemahan, impian yang tak hanya sebuah mimpi jika dijalani dengan tekat yang tak pernah menyerah, Akan tetapi Atap Sulawesi menyimpan sebuah rindu untuk kembali suatu hari nanti. Hal yang tak pernah ku inginkan jika mendaki, namun ada kalanya Mendaki mengajarkanmu arti pulang dan merunduk akan betapa besar Kuasa sang Pencipta, hal itulah yang diajarkan oleh Tanjakan Atap Sulawesi, Puncak Rantemario, Gunung Latimojong.



Oh iya jangan baper dulu hehe… kita baru mau masuk diintronya nih hehehe...

Gunung latimojong merupakan gunung tertinggi di Pulau Sulawesi, yang merupakan sebuah jajaran pegunungan dengan beberapa puncak-puncak. Puncak tertinggi bernama Rante Mario yang memiliki ketinggian 3478 m dari permukaan laut. Pegunungan Latimojong ini berada di kabupaten Endrekang Provinsi Sulawesi Selatan. Akses Rute pendakian berawal dari desa Karangan. Gunung latimojong ini merupakan Gunung non-vulcanologi, selain puncak rantemario ada juga puncak lainnya yaitu puncak Nenekmori, jika salah mengambil jalur biasa orang tersesat dan malah ada di puncak Nenekmori, jadi jika kesana jangan sampe salah puncak ya…

Setelah beberapa hari saya dan sahabatku ebi menghabiskan malam di toraja, sesuai dengan rencana kami akan bertemu dengan teman-teman yang lain di endrekang. Berhubung karena rute saya dari toraja sedangkan mereka dari Makassar maka kami menentukan titik pertemuan kami yaitu di cakke. Mengambil mobil dari toraja endrekang di malam hari lumayan sulit apalagi dihari raya lebaran, kebanyakan jadwal keberangkatan mobil toraja-endrekang yaitu dipagi atau siang hari. Dihari biasa tarif mobil toraja-endrekang biasanya hanya 35ribu saja, namun karena kami berangkat di malam hari yang merupakan hari raya lebaran dan hanya berdua, mau tidak mau kami harus membayar 200ribu untuk kami berdua, seperti halnya mencarter mobil penumpang. Tidak sampai 2 jam kami sudah sampai endrekang dan minta diturunkan di mesjid cakke, kemudian kami di jemput oleh iqbal adeknya akbar untuk beristirahat di rumah temannya sementara menunggu teman-teman yang lainnya datang naik motor dari makassar. Namun jika ingin naik mobil penumpang Makassar-Endrekang hanya dengan membayar 100ribu/orang. Teman-teman yang dari Makassar memilih naik motor karena selain lebih cepat juga tidak terlalu memakan biaya selain bensin, namun ada beberapa juga yang memilih naik mobil. Mereka yang dari Makassar berangkat dari jam 5 sore hingga sampai di Endrekang sekitar jam 1 malam, itu juga tergolong lama karena mereka sering mampir untuk beristirahat. Sesampainya mereka, kami tak bisa menahan godaan opor dan ketupat yang mereka bungkus dari Makassar berhubung habis lebaran Idul Fitri hahaha setelah itu kami langsung beristirahat.


Keesokan harinya pagi-pagi sekali kami sudah bangun dan bersiap-siap untuk berangkat ke desa Karangan, untuk itu kami harus mencari jeep atau truk di pasar cakke. Dan yang akhirnya kami dapat yaitu truk yang dapat memuat kami yang sekitar 13 orang, harga truk sekitar 1,3juta untuk pulang pergi, tergolong murah untuk kami yang belasan orang, jika bagi rata biayanya sekitar 100ribu/orang, dihari pasar ada truk yang mau mengangkut penumpang dengan biaya 35ribu/orang, namun selain itu juga biasa orang mengunakan sepeda motor untuk sampai di karangan. Namun sebaiknya berhati-hati karena jalan ke desa karangan sangat rusak dan terjal, jika tidak berhati-hati maka samping kanan jalan adalah jurang siap menyambut hangat hahaha…

Dari desa Barakka menuju desa latimojong melewati 3 dusun, yaitu Rante Lemo, Angin-angin, dan karangan, kurang lebih sekitar  3 jam lebih untuk sampai desa karangan. Sesampainya kami di sana belum begitu sore, tapi kami memilih beristirahat untuk menunggu teman kami 2 orang lagi yang akan menyusul, agar besok pagi-pagi sekali kami bisa mulai mendaki bersama-sama.


Udara dingin di desa karangan ini lumayan menyengat, membuatku agak sedikit khawatir. bagaimana lagi rasa dingin jika di gunung nanti jika di kaki gunungnya saja sudah sedingin ini. Namun semua hal itu sudah saya antisipasi dengan begitu cermat, berhubung saya tipikal orang yang tidak begitu kuat menahan dingin, tak mau terkena hipotermia di gunung untuk kesekian kalinya maka persiapan perjalanan ataupun tidur sudah saya persiapkan sebaik-baiknya sehingga berat isi tasku hanya perlengkapan agar tidak dingin hahahaa… Yang paling harus kita sediakan yaitu ransum yang berupa cemilan-cemilan, SB (SleepingBag), alat makan, baju celana untuk tidur sebaiknya dipisahkan dengan baju lapangan untuk jalan, jeket, sarung tangan 2 untuk jalan dan tidur, beberapa rushguard (selain berguna untuk laut dapat juga berguna untuk digunung agar tidak dingin) ini sebaiknya dipakai di dalam baju yang akan kita gunakan, matras, dan headlamp/ lampu senter, itu merupakan beberapa barang pribadi yang wajib kita bawa sendiri, kalau bisa seringan mungkin agak tidak kesulitan akan beban tas saat penanjakan. Selebihnya tenda, kompor dan alat masak serta beberapa ransum di taruh di carrier teman-teman lelaki yang perkasa hahaha… Jangan lupa persiapkan minuman nutrisari jeruk dan coki-coki coklat sebagai penambah tenaga.


Subuh-subuh kami sudah bangun untuk bersiap-siap akan memulai pendakian kami, diawali dengan sarapan pagi seadanya agar kami kuat berjalan nantinya. Setelah itu kami sekitar 15 orang, yaitu saya, dharma, ovhy, ebi, kak ipang, widwar, Wilson, kak rijal, akbar, muttar, cakra, kak ruri, kak bolong, dodo, dan wandi siap berangkat menuju Atap Sulawesi.

Jalur Pendakian dari desa Karangan menuju Pos I berupa jalan sempit menanjak yang sudah di cor beton yang berliku-liku mengitar bukit dengan kemiringan kurang lebih 50 – 70 derajat, Hingga akhirnya sampai di Pos I dengan pemandangan pegunungan dan kota endrekang yang terbentang berhadapan dengan jalur Puncak Rantemario yang masih sangat Jauh. Sementara teman-teman berangkat duluan saya memilih menunggu ovhy untuk berfoto-foto, sambil yang lainnya duduk bersantai.  


Kemudian kami lanjutkan lagi menuju Pos 2 dengan jalur yang agak bervariasi, mendaki dan menurun serta melipiri tepi jurang, Saat akan mendekati Pos 2, rute jalan akan menurun karena terletak dibawah sebuah tebing batu. Berhati-hati terutama di turunan ketika hampir sampai di area dekat sungai pos 2, ada turunan terjal dengan jalan yang sangat landai dan berpasir cukup jauh sekitar 3 meter dari atas, Hati-hatilah dalam melangkah dan jangan terlalu terburu-buru, karena setelah turunan ini hanya jalan sangat kecil yang menyambut dengan jurang tepat dibawahnya. Saat sampai di Pos 2 ditandai dengan adanya sungai yang mengalir cukup deras dan diatasnya ada jembatan kayu sebagai penghubung jalan. Saat di Pos 2 sambil menunggu kedatangan teman-teman yang lain, kami membuat gelang atau cincin dari rotan, yang bisa kalian dapatkan di sepanjang jalan menuju Pos 2. Konon ada Mitos agar para pendaki harus memakai rotan yang biasanya dibuat berupa gelang atau cincin di badannya selama perjalanan hingga pulang agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan, itu hanya sebuah mitos, tapi percaya tidak percaya tetap dilakukan, Namun tetaplah ingat bahwa Tuhan diatas segalanya. 



Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 3, Meninggalkan pos 2 medan tanjakan terjal akan dihadapi, dengan kemiringan sekitar 80 derajat, Tanjakan terjal ini cukup berbahaya dengan tanpa bonus datar sama sekali, maka harus lebih memperhatikan keseimbangan agar tidak terjungkal kebelakang. Di Pos 3 ini tidak ada air sama sekali jadi harus menyimpan persiapan air yang cukup. Jarak antar pos kami usahakan 1 jam namun agak tidak tepat, entah karena jalan yang terlalu santai ataukah ada teman yang kurang sehat. Namun ada beberapa teman-teman yang sudah mendahului yang di pimpin oleh widwar sengaja selalu melangkahi 1 pos dengan saya, Saat kami baru tiba di pos, mereka langsung jalan dengan gaya ala pramugari angkat tangan trus bilang, “ ada mi tasya, jalan ma ki nah anak-anak” hahahhaa Siall…. hanya sekedar untuk mengerjaiku tapi malah kita sengaja bawa santai dan berlama-lama. 

Jalur pendakian menuju Pos 4 mempunyai kemiringan 60 hingga 70 derajat, dengan sesekali bonus jalan mendatar. Pos 4 merupakan sebuah areal yang tertutup oleh pepohonan dan tidak ada sumber air. Mulai dari Pos 1 tim sudah mulai terbagi-bagi, Tim pertama yaitu Widwar, dharma, ebi, kak ippang, kak ruri dan cakra. Di ikuti Tim kedua yaitu saya, Wilson, dan akbar. Kemudian tim ketiga, disusul oleh yang lainnya. Jalur yang begitu terjal sungguh agak menyulitkanku, dengan ditemani Wilson yang berjalan didepan dan akbar berjalan dibelakangku, berbagi cerita-cerita film sepanjang jalan mulai film korea sampe barat, bersama mereka seakan berjalan dengan sebuah cerita yang dibuat-buat. Karena jalanku yang agak berisik dan seperti memaksakan diri membuatku lebih cepat lelah dan terlalu banyak minum, maka mereka membuat-buat cerita, kata wilson “ tasya bayangkan ko jalan itu kayak lagi mau perang, jalan pelan terus lihat kiri kanan amati musuh, pelan-pelan saja biar tidak cepat capek” hahahhaa seperti film korea yang lagi ngehits ala-ala tentara perang gitu, hal itu membuat perjalanana menjadi lebih menyenangkan hahahhaa…


Setelah itu menuju Pos 5, tujuan terakhir kami hari itu. Karena Pos 5 akan menjadi tempat camp kami. Jalur dari pos 3 ke 4 kurang lebih sama dengan pos 4 ke 5. Area ini berupa daerah datar yang cukup luas dan terbuka dilindungi oleh beberapa pohon besar, jarak yang di tempuh sekitar 1 jam 30 menit. Di pos 5 ini terdapat sumber air yang cukup jauh sekitar 100 meter menurun kearah lembah di kiri jalan setapak jika kita kearah puncak. Setelah sampai, kami mulai bersiap-siap dengan mempersiapkan tenda dan perlengkapan masak dan beristirahat. Ketika hari mulai malam, udara dingin menyengat mulai menyapa, namun ternyata tidak sedingin yang kami pikirkan. Malam kami lalui dengan bercanda satu-sama lain, beristirahat lebih dan minum obat buat yang kurang enak badan. bahkan ada kak dodo yang sakit perutnya yang betul-betul menyiksa sampai makan daun jambu dari kak cakra yang buat semakin parah hahaha tapi ternyata lodia yang lebih menyelamatkan, menurutku makan dan istirahat yang cukup serta minum obat yang steril akan membantu penyembuhan lebih cepat, maka P3K betul-betul sangat dibutuhkan. Kemudian kami memilih beristirahat untuk menghadapi hari esok yang lebih berat menuju Puncak.

Pagi Hari kami bangun lebih awal, untuk bersiap-siap sarapan agar bisa berangkat menuju puncak lebih awal. Memasak makanan untuk dibawa bekal, berupa telur, nasi, atau pudding pandan yang selalu menjadi andalan kami saat mendaki (pengalaman dengan pudding yang menyelamatkan kami dari kehausan saat di bawakaraeng). Beberapa teman memilih tinggal di Pos 5, sementara yang lainnya melanjutkan perjalanan dengan rencana muncak dan langsung turun kembali di pos 5. Jalur pendakian dari Pos 5 menuju Pos 6 melewati hutan lumut yang terbuka dengan tidak ada sumber air di lokasi ini.

Tidak berlama-lama kami langsung melanjutkan menuju Pos 7 yang memakan waktu lumayan lama sekitar hampir 2 jam. Jalur pendakian yang di tempuh sudah terbuka dan dari jalur setapak kita bisa menikmati hamparan pegunungan Latimojong. Keindahan itu membuat kami agak berlama-lama dengan mampir hampir di setiap pemandangan terbuka yang kami temui. Saat sampai di Pos 7 banyak pula kami temui banyak pendaki yang memilih menginap di pos ini, selain karena sumber air yang dekat sekitar 15 meter berupa sebuah aliran sungai kecil jernih yang berada di sebelah kiri dari pos ini jika kita menghadap kearah puncak, juga area ini begitu luas dan terbuka hanya harus berhati-hati jika cuaca kurang memungkinkan agar mewaspadai jika ada badai. 

Setelah beristirahat sejenak, dari Pos 7 kami menuju Puncak. Awalnya kami kira ada hingga Pos 8 namun itu salah, tempat ini biasa disebut pertigaan yang merupakan sebuah daerah terbuka yang cukup luas dengan banyak dihiasi batu-batu putih yang sengaja disusun membentuk lingkaran ataukah angka yang menunjukan ketinggian. Nah disinilah ada percabangan, jika ke arah kira menuju ke puncak Rantemario, namun jika ke kanan merupakan jalur menuju Puncak Nene Mori. Dan jika belok 90 derajat kekanan dapat menemukan jalan setapak turun ke arah Palopo. Jalur yang dilewati menuju pertigaan ini menurutku agak menyenangkan, selain pemandangan yang disajikan begitu indah karena banyak area terbuka dengan lautan awan yang terbentang luas, juga banyak bonus jalur yang datar.

Dengan Oksigen yang menipis kami melanjutkan perjalanan menuju Puncak Rantemario, Jalur pendakiannya sedikit menanjak dan terbuka namun begitu panjang kadang agak menanjak dengan kemiringan kurang lebih 30 derajat, hanya saja jalur yang begitu penuh tanda tanya oleh karena melewati beberapa bukit yang terbentang, sehingga puncak rante Mario tidak terlihat dari jauh. Sebuah penantian yang dijalani dengan kesabaran tak pernah berujung dengan sia-sia.

Kami akhirnya bertemu dengan kemegahan Tringulasi Atap Sulawesi, Puncak Rante Mario, Gunung Latimojong. Puncak yang terbentang luas dan kami beruntung saat itu karena kabut yang menutupi puncak mulai hilang dan terbuka memperlihatkan langit dan gumpalan awan biru menjadi latar berfoto bersama Tringulasi. Udara begitu dingin menyengat saat berada di puncak, Namun berfoto-foto, foto selfie dan foto bersama tim menghilangkan rasa dingin itu diganti kehangatan kebersamaan . Dan kembali pudding pandan andalanG menjadi penyemangat baru kami dalam kelelahan hahaha…

Tak ada rasa yang lebih mengharukan dan syukur yang tak terkira, bagai melihat kebesaran dan keagungan Tuhan yang begitu besar. Kadang apa yang dicari manusia saat mendaki? Apakah agar lebih dekat dengan Tuhan? Tapi saat mendaki itulah Tuhan memperlihatkan bagaimana ketika semakin tinggi maka manusia harus belajar merunduk, istilahnya seberapa hebatnya dirimu tetap belajarlah lebih rendah hati. Dunia jie ini Lautan selamanya,,, ehh diganti karena beda tema hahaha Dunia jie ini Gunung selamanya wakakakaka….

Setelah puas menikmati berfoto ria di puncak, demi waktu agar tidak kemalaman dan terlalu dingin, kami langsung kembali berjalan pulang ke Pos 5. Mungkin karena jalur yang akan dilalui sudah terlewati maka perjalanan terasa lebih ringan dan cepat, waktu juga berlalu dengan begitu cepat tak terasa langit sudah mulai gelap membuat langkah kami harus semakin cepat dan istirahat kami dipersingkat. Sesampainya di Pos 5 sudah begitu gelap sekitar bukul 7 malam, sambil menunggu teman-teman yang lain. Dengan susu coklat energen yang menghangatkan segala pilu dan ngilu di kaki terasa terobati.
wanita-wanita perkasa

Malam itu kami hanya bercanda dan bercerita tentang pengalamanan kami selama diperjalananan. Tak ada yang bisa menebak saat di gunung, ebi yang awalnya dikhawatirkan teman-teman saat saya bawa mendaki karena belum pernah sama sekali naik gunung bahkan menjadi yang terkuat, ovhy yang berjuang mati-matian untuk mencapai puncak dengan dijagai kak bulung, kak ruri yang strongg abis double depek dan carrier, Dharma yang lincah, kak bones yang terbaik hahaha setidaknya dia penolongku saat cedera, wandi yang suka potoin orang hahaha, muttar yang selalu jadi bahan dengan pertengkarannya sama ovhy, kak rijal yang santai jalannya tapi selalu sigap saat yang lain membutuhkan bantuan, kak cakra yang terbaik saat membuat rotan, kak dodo yang setelah perutnya tidak sakit lagi malah jalannya yang paling cepat, widwar yang selalu siap siaga, wilson dan akbar yang mendampingiku saat perjalanan kalian terbaik hahahaha... terharunya teman-teman saat pertama melihat puncak semuanya itu mengambarkan sebuah kebanggaan menapati atap sulawesi. Malamnya kak cakra membuat spageti yang di bawah kak rijal hahaha yang bisa disebut spageti merica karena pedisnya minta ampun. Mengobati tangan kak rijal yang berdarah tapi disitulah saya tidak berhenti tertawa dengan tingkah kak rijal ternyata lelaki berjengot pun takut dengan darah hahahhaa…. teman-teman saling bergantian memijit kaki yang pegal hanya agar lelah selama perjalanan dapat hilang. Tapi itu semualah yang mengambarkan kehangatan dan kebersamaan saat digunung.

Keesokan paginya kami bersiap-siap melanjutkan perjalanan akan turun ke karangan. Jujur perjalanan pulang sungguh sangat membosankan maka selama diperjalanan saya membuat taruhan dengan dharma, siapa yang lebih cepat sampai akan diteraktir sari laut dan teh pucuk sampainya di Makassar, hahaha hal bodoh yang sedikit memberi semangat selama diperjalanan, berlari, saling mendahului bahkan saling menjatuhkan tapi juga saling menyelamatkan. Awalnya terlihat asik tapi rasa lelah yang menyelimuti juga membuat tidak focus, yang berakhir dengan terkilirnya kakiku. Melewati pos 2, dharma sudah berlari didepan bersama ebi, namun rasa lelah membuat jalanku melambat, dengan kak ippang dibelakangku, namun karena kurang focus saat melangkahi sebuah pohon besar, yang awalnya duduk di atas pohon kemudian turun dan mendarat dengan cara yang salah tiba-tiba bunyi “kreeekkkkkk” Mukaku pucat pasih, hanya bisa meringis kesakitan, kakiku tidak bisa digerakan sama sekali, ketakutan menyelimutiku, melihat puncak pun saya tidak menangis tapi ketika cedera baru menagis karena khawatir, khawatir jika akan menyusahkan orang lain. Namun setelah agak tenang, otak ini mulai berfikir apa yang harus dilakukan, jarak ke karangan masih sangat jauh tapi setidaknya sudah melewati pos 2 dengan tanjakan yang cukup ekstrim, tanpa melepas sepatu saya kemudian melanjutkan perjalanan dengan tertatih-tatih dan dengan bantuan sebuah kayu, tapi ketika mulai terbiasa dengan rasa sakit itu saya memilih berjalan tanpa kayu dan tetap memikul tasku walau diganti dengan tasnya ebi yang lebih ringan. Dengan dharma, ebi, kak bones yang berjalan santai di depan sambil menungguku yang kesakitan berjalan, bahkan ada insiden salah sebut nama hahaha…. Jalan yang panjang terasa 2 kali lebih jauh karena menahan rasa sakit terkilir ini. Ketika sampai ke karangan saya langsung membuka sepatu, mengambil P3K dan tak bisa saya temukan apapun yang dapat membantu secara baru kali ini terjadi, maka saya hanya bisa mengambil salonpas kemudian menempelkan beberapa di pegelangan kakiku. Yahh begitulah sebagaimanapun berhati-hatinya kita, kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi, bahkan buat saya yang selalu membawa lengkap perlengkapan obat-obatan kemana-mana.
satu cedera tangan, satu cedera kaki hahaha...

Sejenak beristirahat di karangan, kami harus segera berangkat lagi karena ternyata truk kami sudah menunggu lama. Kemuadian kami pulang dengan truk yang awalnya di isi pasir kemudian diganti dengan tumpukan berkarung-karung kopi hahahha… dan saya hanya dengan satu posisi dengan kaki yang sudah cukup bengkak, seperti adonan yang di pakaikan ragi hingga mengembang hahahha… Selama diperjalanan kami singgah hanya untuk sekedar mencari cemilan jalangkote atau roti goreng.
Sesampainya di saruran, badan ini rasanya seperti remuk semua tapi tak mengurangi segala kelegaan kami telah menapaki Puncak Rantemario Gunung Latimojong. Segala suka dan duka kami lalui bersama dengan tidak mengeluh namun berjalan dengan penuh harapan agar sampai di puncak dan pulang dengan selamat. Gunung mengajarkanmu mengenal dirimu sendiri, belajar menunduk pada kuasa Sang Pencipta, membuatmu melihat batas dirimu, bersyukur akan hal sekecil apapun. Di Tanjakan Atap Sulawesi ini jugalah saya yang begitu berhati-hati saat trip dengan segala tameng perlengkapan obat-obatanku pun untuk petama kalinya cedera, Di Tanjakan Atap Sulawesi ini mengajarkan banyak hal. Semoga suatu hari nanti diberi kesempatan untuk kembali bertemu dengan si gagah Tringulasi Rantemario.


Buat kalian yang telah berjalan bersama, dan buat kalian yang sudah membaca ini. Terima Kasih untuk segalanya.    

6 comments:

  1. Wihhh Mantap Tasya,,, kapan kapan klo kamu mendaki lagi ajak ajak lah mau saya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih banyak sudah berkunjung ๐Ÿ™
      hehehe iyaa.. tapi skrg lagi pause dl utk mendaki ๐Ÿ˜

      Delete
  2. Buat novel aja siapa tau laku?.hahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahha klo sy buat novel kalian mi pembeli pertamaku ๐Ÿ˜‚

      Delete