Tuesday, 28 June 2016

Bermain Perahu kano bersama anak suku bajoe Pulau Papan Togean..



Setiap pergi ke suatu tempat, saya selalu memiliki sebuah keinginan yang diam-diam saya cari dan wujudkan. Tak ada perjalanan tanpa sebuah tujuan, dan dibalik semua tujuan utama selalu ada sebuah tujuan kecil yang terpendam. Begitu pula dengan Togean. Togean adalah mengenai sebuah cerita, keceriaan dan keberuntungan... Keinginan terbesar yang merupakan tujuan kecilku yang terpendam, saat menginjakan kaki di pulau Togean adalah ingin bermain naik perahu kano dengan anak-anak suku bajoe pulau papan dan melakukan perjalanan ini seperti begitu diberkati, lalu hal itu terwujud dengan begitu manis... one of the best part of my life..!!


Setelah selesai makan siang sepulangnya kami dari tracking di pulau papan yang lumayan menguras tenaga, oleh karena medan tracking yang cukup jauh dan berat selain itu juga harus kami lewati panasnya jembatan papan panjang kurang lebih 2 km. Mengunjungi pulau papan kala itu sebenarnya membuatku cukup kecewa, jangankan mau bermain kano dengan anak-anak suku bajoe, sangat sedikit kami temui anak-anak disana karena ternyata di pagi hari mereka pergi kesekolah, maka kami pulang dengan dijemput speedboat milik penginapan. 

Di Siang hari yang cukup terik, hanya bersantai di atas hammock salah satu kamar di penginapan malenge lestari, sambil membaca buku menunggu hingga datangnya sore yang sekiranya matahari agak sedikit bersahabat. Terasa begitu nyaman serasa waktu berjalan begitu lambat tiap detiknya. Yang terdengar hanya deru angin dengan pemandangan dermaga kecil dan laut yang membentang. Namun dari kejauhan terdengar suara anak-anak yang lumayan berisik, agak penasaran dari mana arah datangnya suara itu, saya berlari mencari tahu karena sepengetahuanku tak ada anak kecil yang tinggal di penginapan ini. Tapi firasatku seakan membuatku berlari dengan begitu bersemangat ke arah dermaga. Terlihat dari jauh ditengah laut antara Pulau Kadoda yang merupakan cottage tempat kami menginap dengan pulau papan, ada sebuah perahu kano dengan beberapa orang diatasnya, entah itu orang dewasa ataukah anak-anak karena jarak penglihatanku yang tidak begitu bagus hehe saya hanya bisa menerka-nerka karena terdengar samar-samar suara tawa anak-anak itu berasal dari perahu kano itu. Akan tetapi dengan harapan kecil dan keinginan terbesarku kuberanikan diriku memanggil mereka hehehe yang sebenarnya masa bodo aja asal manggil, kali aja i'm Lucky..
" Heeiiiiiiiiiiiiii.... ayoo kesiniiiiii....." Teriakku agar dapat didengar oleh mereka. 
seketika tawa mereka berhenti, diganti dengan semangat mereka mengayung perahu kano menuju dermaga, disambut gonggongan anjing pemilik penginapan yaitu si molo dan moka, yang konon katanya kedua anjing itu tidak terlalu ramah pada penduduk lokal, tapi sangat ramah pada turis hahaha ada-ada saja, anjing juga ngerti mana yang menghasilkan duit buat tuannya. 

Begitu perahu kano itu mendekat, terlihat 4 orang anak berada di atas kano, yaitu 2 orang anak perempuan dan 2 orang anak lelaki, sambil tersenyum malu melihatku yang sedang menunggu mereka, dengan tidak sabar di pinggir dermaga...
"Halooooo kakak boleh naik di perahu kalian..??" tanyaku pada mereka tanpa basa-basi, dengan plus senyum lebar sumringah memenuhi wajahku. 
"Boleh kak.." Jawab salah satu anak lelaki diantara mereka dengan tegas dan senyum yang tak kalah lebar dengan senyumku.
"Terimakasih, tunggu yaa kakak ganti baju dulu yaa,,, sebentar saja" rayuku pada mereka, agar mereka tak berubah pikiran. Sembari berlari dengan tidak sabar menuju ke kamar, untuk berganti baju yang dipakai untuk berenang, berhubung kebutuhan baju yang begitu dihemat pemakaiannya. setelah berganti baju, saya langsung berlari kembali ke dermaga. Menemukan mereka telah memarkir kapalnya di depan dermaga, sambil ada yang berada di bawah tiang dermaga ataukah yang  masih berada di atas kano. Karena begitu takutnya mereka untuk naik ke pulau atau bahkan di atas dermaga. 


"Ayokkk kalian ajak kakak keliling pake kano yaaa..."ucapku dengan semangat yang mengebu-gebu pada mereka, dan disambut dengan gerakan cepat mereka naik kembali ke atas kano dan membiarkanku mencari posisi terbaik duduk diatas kano itu, karena jujur saja saking kecilnya, lebar kano tersebut hampir selebar pinggulku hahaha... 

Mereka mulai mendayung kano itu menuju ke tengah laut, perlu waktu untukku bisa menyeimbangkan diri dan mencari posisi nyaman. Untuk mencairkan suasana dan membuat mereka akrab saya mulai bertanya apa saja. Saat itu kami sedang berada di pulau besar malenge, yang digabungkan oleh 2 pulau yaitu pulau papan yang berada berdepanan dengan pulau kadoda yang merupakan berdirinya malenge lestari cottage, tempat menginap kami. Pulau papan ini adalah  tempat tinggal asli suku bajoe, disebut pulau papan oleh karena disambung oleh jembatan papan sepanjang kurang lebih hampir 2 km, yang juga merupakan tempat tinggal mereka, 4 orang anak suku bajoe yang sedang membawaku melintasi lautan dengan perahu kano milik nenek mereka.

Anak yang pertama bernama, Rafli seorang anak lelaki kelas 5 SD yang memakai baju merah dan celana merah, mata besar berbinar dan kulit coklat terbakar sinar matahari, duduk paling belakang memegang dayung sebagai penentu arah kano itu, akan berjalan ke arah mana, bercita-cita ingin menjadi seorang pilot dan ternyata dia adalah si bolang dari pulau papan yang pernah masuk di transtv hahaha yang bahkan tidak saya sadari sama sekali padahal saat siang sebelumnya kami ke pulau papan, banyak turis lokal yang mencari si bolang ingin berfoto bersamanya. tapi apa bukan dibilang sebuah keberuntungan, mereka datang sendiri bermain dengan kami.
Anak yang kedua bernama Selfi, seorang gadis kecil dengan mata agak sipit kulit coklat dan rambut keriting sebahu yang diikat ekor kuda, memakai baju hitam. selfi berumur sekitar 11 tahun dan bercita-cita ingin menjadi seorang guru matematika. 
Anak yang ketiga bernama Mirna, seorang gadis kecil berkulit sawo matang, berjilbab hitam, memakai baju putih dengan jeket kulit merah diluarnya dan celana panjang hitamnya. Mirna bercita-cita ingin menjadi seorang guru bahasa inggris, bahasa inggrisnya cukup bagus untuk anak seumurannya di pulau kecil itu.
Dan yang terakhir bernama Fadli, seorang anak lelaki kecil yang postur tubuhnya kurus dan berkulit coklat dengan baju birunya yang kebesaran. berbeda dengan rafli yang aktif, fadli ini agak pemalu. Dan ketika ditanya cita-citanya apa, dia masih binggung dan galau mau jadi apa,, tapi mungkin pelaut katanya hahhaa... saya hanya menganggunya dengan, "awas ujung-ujungnya jadi nelayan di pulau, kalau mau jadi pelaut harus rajin belajar biar cita-citanya bisa terwujud.." dan dijawab oleh meraka dengan tegas dan semangat " iyaa kak..". Sekolah yang ada di kepulauan Togean ini hanya sampai Sekolah dasar (SD), ketika mereka ingin melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau kejenjang yang lebih tinggi lagi, mereka harus ke Ampana. begitu miris, di atas cita-cita tinggi yang ingin mereka capai, mengharuskan mereka meninggalkan kampung halaman tempat mereka dibesarkan, oleh karena keterbatasan ataukah sarana yang menunjang ilmu pendidikan. 
Cukup jauh mereka membawa saya dengan perahu kano hingga di tengah laut, sambil kamera xiomieku terus merekam setiap perilaku dan perjalanan kami. Mereka tertawa dan bercanda menceritakan cita-cita mereka dengan polosnya, sambil beberapa kali menganggu si fadli. 
kemudian saya menantang mereka, 
"katanya anak-anak suku bajoe jago-jago berenang, ayoo sebentar kita main yaa kita lomba-lombaan sapa yang paling jago menyelam..mauuu??", kemudian mereka menjawab dengan suara lantang dan bersemangat, " mauu mauu,, saya mau kak,,". Setelah puas berkeliling dan tak mau terlalu jauh, lalu kami kembali menuju ke dermaga, disana sudah menunggu kak gilang dan kak anto. kak anto juga ingin naik diatas perahu kano mereka, tapi begitu dia naik, mereka semua turun dengan hanya ada rafli di belakang untuk mengerakkan perahu. karena takut perahu nenek jadi rusak, mereka tidak berani mengisi beban yang terlalu berat di atas perahu. sementara kak anto diajak rafli berkeliling, kami sendiri asik berenang. Ketika berenang saya memberikan jepitan bunga bali kecil yang ada dirambutku kepada selfi, karena mirna pakai jilbab dan kebetulan jepitanku cuma satu maka hanya saya berikan ke selfi, itu membuatnya sangat senang, sementara yang lainnya kami beri permen. Bahkan rafli dan fadli bercerita mereka suka menembak ikan hahaha yang istilah para freediver yaitu sperfishing tapi bagi mereka itu biasa, bahkan menangkap lobster dengan tangan kosong hahahha...


Sepulangnya rafli dan kak anto, mereka memarkir perahu kano  disisi dermaga, dengan tali mengikat pada tiang dermaga. kemudian seraya menagih janji, kami berenang, menyelam, melompat dari dermaga, bermain dengan laut dan alam. Hingga senja sore itu, kami memilih lanjut bermain dengan kano di laguna biru tepat di sisi belakang penginapan. Sebuah laguna alami yang dihiasi dengan air laut yang hijau toska, dikelilingi pulau dan pepohonan lebat, dengan berdiri kokoh dermaga kecil tepat dibelakang ruang makan dan ruang tamu malege lestari cottage dengan beberapa hammock yang digantung di tiang-tiang dermaga dan beberapa perahu kecil menghiasi indah sisi dermaga. Tempat favorit kami selama ini malenge lestari.


Saat memutuskan akan bermain di laguna, saya memilih bersama anak-anak menuju laguna dengan perahu kano mereka, sedangkan kak gilang dan kak anto lewat jalur darat hahaha, dan kami mulai perjalanan menegangkan kami, saat rafli sang kapten mulai mendayung perahu kano dengan gaya yang dibuat-buat, dan fadli sang komandan yang mengarahkan agar perahu di gerakkan ke kiri ataukah ke kanan, dan si gadis-gadis sebagai pramugarinya,, namun ternyata ditengah perjalanan yang jaraknya agak jauh dari pinggir pantai yang bahkan sudah melewati sedikit tebing-tebing pepohonan, air mulai masuk di dalam kapal yang ternyata agak bocor jiahhhahahaha... anak-anak mulai panik dengan kami terus menimba air keluar dari kano,, "ihh nanti perahu nenek rusak, kayak bocor ini perahu.." bahkan selfi menyarankan agar kita menepi terlebih dahulu tapi rafli tetap nekat mendayung sambil kami terus menimba air yang tak ada habis-habisnya. tapi apa daya air terus masuk hahhaa kami hanya bisa terus menimba air keluar dari perahu, sambil menertawakan perbuatan kami, beberapa kali rafli sang kapten berbicara dibuat-buat " Yaa komandan, lapor air sudah mulai masuk, sebentar lagi kapan akan tengelam, harap penumpang siap-siap angkat air" hahaha yang diikuti dengan gelak tawa kami, kemudian disambut dengan fadli si komandan "pertahankan kapal kapten, jangan menyerah,, tujuan kita masih jauh, ayoo terus berjuangg" dengan tawa kami menjawab berbarengan "Merdekaa.." hahahhaha... 

Ketika hampir mendekati dermaga, dengan  tangan dan lengan yang pegal karena menimba air akhirnya saya duluan yang melompat keluar dari perahu disusul oleh fadli dan selfi, kami berenang hingga di tepi dermaga sambil berpegangan pada perahu. Berenang di laguna, membuat kami melihat sebuah pantai kecil di sisi lain dari laguna. Akhirnya kami memutuskan menuju pantai kecil itu, saya memilih berenang dan kak gilang naik di atas perahu kano kembali hanya dengan rafli. Berusaha berenang mengejar kano ternyata tak mampu akhirnya kak gilang berteriak agak saya berpegang saja pada perahu hahahha mau sok-sokan berenang padahal tangan pegal-pegal habis menimba air. Sesampainya kami di pantai kecil di sisi lain laguna biru itu, kami kemudian merekam tingkah bodoh kami dari kejauhan, dengan bersorak dan melompat, secara berjejeran entah anak-anak di belakang lalu saya dan kak gilang di depan ataukah sebaliknya hahahha... Hal yang menyenangkan, salah satu sore paling membahagiakan di hidupku.. 


Langit gelap mulai menyapa disertai redupnya senja sore itu, keasikan main anak-anak ini seakan tidak mau pulang, tapi karena khawatir mereka kemalaman nanti di laut kami menyuruh mereka pulang, walau mereka bilang sudah biasa hingga malam dilaut. Tapi bagi saya tidak baik anak-anak main terlalu malam,, 
"kalian pulang saja dulu, besok datang lagi yaa.. bawakan kakak tasya lobster hahahha.." kemudian mereka bergegas untuk pulang, sambil kami terus memandang kepergian mereka dengan perahu kano nenek, menuju pulau papan ditemani senja sore yang mulai meredup. Ketika kami mulai bersiap untuk beranjak, tiba tiba terdengar teriakan rafli "Dadaaaahhhhhh kakakk tasyaaaaa.... sampai jumpa besokkk..." teriaknya sambil berdiri di ujung perahu lalu mengangkat gayungnya tinggi-tinggi. Begitu terharu rasanya saat itu. Lalu saya membalas teriakan mereka, "kalian hati-hati yaa...." seandainya mereka punya hape pasti sudah saya minta dikabari kalau mereka sudah sampai di rumah. 


Keesokan harinya, badanku pegal-pegal, ternyata melompat-lompat kemarin begitu menguras tenaga hahaha itu membuatku tidur sepanjang siang. Namun terdengar suara kak anto memanggil, "tasya, kamu dicariin anak-anak lagi tuhh, mereka manggil-manggil trus kakak tasyaaa kakak tasyaa.. tapi ngk berani mendekat pulau takut anjing kayaknya.." terkejut mendengarnya saya langsung lari keluar kamar, tenyata betul, anak-anak itu datang kembali. Kali ini mereka membawa jambu air merah yang mereka petik di kebun seberang pulau. Hampir sebagian dasar perahu kano itu tertutup dengan jambu. Kali ini perahu yang mereka tumpangi berbeda, ternyata bukan lagi perahu nenek tapi perahu kano milik selfi yang lebih kokoh, sambil kami gangguin, " kalau di kota nih selfi seperti uda punya mobil hahaha.." selfi hanya tersenyum malu dibarengi tawa teman-temannya. Yang membuatku bertanya-tanya, diantara mereka tidak ada Rafli, tenyata rafli sudah datang dari tadi tapi karena mereka tidak melihat kami ada di dermaga jadi mereka pulang lagi, hingga rafli di minta membantu bapaknya, jadinya mereka datang tanpa rafli, tapi ditemani 1 lagi teman baru bernama ajeng. Karena kurang enak badan, saya hanya melihat mereka bermain tanpa ikut turun berenang. Kak gilang yang tidak sabar sudah kepengen banget berenang, katanya berenang terakhir di pulau ini, karena memang ini hari terakhir kami ke pulau itu. Besok kami sudah harus beranjak ke pulau lain lagi, hal itu yang membuat kak anto menyuruhku bicara pada mereka, jangan sampai besok mereka ke sini lagi padahal kita sudah tidak ada, dengan tidak tega saya terpaksa berbicara pada mereka, agar mereka tidak kecewa, "Besok kakak tasya sudah pulang, jadi kalian tidak usa kesini lagi ya, semoga ada kesempatan, kakak tasya bisa kembali lagi datang ke togean,, kita bisa main kano lagi, bilang juga sama rafli ya, jangan sampe besok rafli datang lagi panggil-panggil kakak tasya trus ngk ada yang keluar.." Dan dijawab hanya dengan anggukan mereka yang lesu dengan senyum yang di paksakan,, ohh sedih rasanyaa.. 

Tak ada salahnya berharap pada suatu keajaiban, mungkin saja di balik semua yang kamu jalani ada dewi fortuna menemani. Bersama mereka adalah suatu hal luar biasa yang kami dapatkan di Togean. Bertemu dengan mereka kusebut sebuah keberuntungan yang menjawab tujuan kecilku yang terpendam. Berinteraksi dengan warga lokal dan terutama anak-anak adalah kesukaanku. Bahagia rasanya melihat tawa dan senyum polos mereka disela-sela rasa malu, berinteraksi dengan orang dewasa yang dari kota. Tiap ekspresi yang mereka keluarkan begitu polos langsung dari hati mereka tanpa dibuat-buat. Disaat anak-anak di kota bermain dengan gadgetnya, anak-anak pulau yang terkucilkan oleh karena tak terjamah jaringan raksasa yaitu signal ponsel, membuat mainan mereka sendiri, bermain kano, menyelam, berenang, menembak ikan, menangkap lobster, dan bermain dengan turis yang datang bergantian tiap pekannya. Miris tapi itulah kebahagiaan sederhana yang ada di pelosok timur indonesia, pulau togean. 
Thanks Malenge Lestari Togean

Ketika pergi ke berbagai tempat traveling terkadang mengeksplore habis-habisan sehingga seakan semua pelosok dan tempat wisata telah dijamah, yang membuat ada rasa cukup puas berada di tempat tersebut, namun masih banyak tempat indah lain di luar sana yang ingin di kunjungi, maka rasanya tiap tempat cukup sekali saja di jejaki. Tapi tanpa kusadari, di situ... di Pulau kadoda, di penginapan malenge lestari hatiku terpaut, di sana serasa menemukan rasa yang baru, rasa ingin kembali, serasa rumah sendiri, rasa yang lama tak ku temukan di tempat mana pun ku pergi. Rasa rindu akan semua hal, tempatnya, kesunyiannya, ketenangannya, keindahannya, senjanya yang menghanyutkan, langit malamnya yang bertabur bintang, laguna birunya, suasananya, orang-orang yang ditemui, orang yang menemani, semuanya seakan ada dihati dan tak akan terlupakan sambil menyimpan rasa itu.. rasa ingin kembali.. suatu saat nanti,, Pasti... 




4 comments:

  1. Hallo kak tashya. Sori kenalin aku seno. Kebetulan ni aku termasuk orang baru di sulteng dan salahsatu orang yg punya keinginan berkunjung ke togean, bermain dengan anak" dan warga disana serta memberi sedikit hal yg berguna bagi mereka (belajar bareng, ngasih barang/kebutuhan yg berguna bagi mereka). Iseng iseng tadi aku review tulisan kak tashya, jika tidak keberatan dan diperbolehkan bertanya" lebih lanjut. Sosmed apa yg bisa di share ke aku ? Thanks sebelumnya 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. haii salam kenal juga,, makasih sudah berkunjung di blog sy,,, di blog full web, bisa lihat ada akun FB dan instagram saya,,, kita bisa sharing2 disitu... inbox aja, sy dgn senang hati berbagi ^_^

      Delete
  2. Hallo kak tashya. Sori kenalin aku seno. Kebetulan ni aku termasuk orang baru di sulteng dan salahsatu orang yg punya keinginan berkunjung ke togean, bermain dengan anak" dan warga disana serta memberi sedikit hal yg berguna bagi mereka (belajar bareng, ngasih barang/kebutuhan yg berguna bagi mereka). Iseng iseng tadi aku review tulisan kak tashya, jika tidak keberatan dan diperbolehkan bertanya" lebih lanjut. Sosmed apa yg bisa di share ke aku ? Thanks sebelumnya 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. halo kak seno,, kita bisa share lewat akun FB saya, Tashya Uneputty atau Instagram saya @tashyauneputty saya dengan senang hati sharing pengalaman :)

      Delete