Thursday, 12 May 2016

Ketika mitos mengalahkan logika dan keyakinan, Puncak Bawakaraeng kembali memanggil..


Konon katanya ada mitos yang diyakini oleh para pendaki, jika kamu buang air besar di puncak gunung dengan menggali dan menimbunya kembali dengan tanah maka entah bagaimana caranya puncak gunung akan memanggilmu kembali, mendaki gunung yang sama suatu saat nanti. Mei 2013 saya pernah menulis hal yang sama kala pertama menapaki puncak bawakaraeng, begitu terpesona akan keindahan puncak bawakaraeng membuatku bertaruh dengan mitos yang kudengar dari teman yang entah sudah dimana sekarang, membuatku berpikir saat itu siapa lagi yang akan membawaku kesini. Saya seorang yang sangat jarang mau menginjak tempat yang sama untuk kedua kalinya karena berpikir waktu begitu terbatas dan masih banyak tempat luar biasa diluar sana yang belum kudatangi, mengapa harus menginjak tempat yang sama untuk kedua kalinya, sedangkan mendaki bukanlah hal yang mudah. Namun ternyata kini kupercaya, jangan pernah bermain-main dengan gunung, itulah mengapa para pendaki selalu mempunyai hal-hal yang sakral bagi mereka. Tiga tahun yang lalu bertaruh dengan sebuah mitos, namun kini sebuah mitos mengalahkan logika dan keyakinan, ketika sudah saatnya puncak bawakaraeng kembali memanggil.


Malam itu kami berkumpul untuk membicarakan planing trip dive ke selayar, namun banyak ketakutan jika akan hujan keras ataukah ombak kencang bila akan pulang nanti hingga mempertimbangkan soal apakah ada kapal balik nantinya dari selayar ke makassar,berhubung hari terjepit yang kami ambil untuk trip selayar ini adalah hari raya imblek. Semua jadi ragu dan memutuskan akan ikut tripnya kak ippang yaitu ke gunung bawakaraeng. Dharma yang terus membujukku agar ikut mendaki juga bersama mereka. Jiet dan widwar serta kak gilang ragu dan memutuskan untuk akan ikut mendaki ke bawakaraeng. saya hanya melongo dan terkejut sambil terdiam dengan hanya mengaruk-garuk kepala, jelas berpikir keras, dalam hati saya bertanya-tanya ".. Apa saya masih kuat mendaki? apa mitos itu berlaku..?" tanpa menjawab ajakan mereka saya hanya mengatakan nanti dilihat. Jujur begitu besar keinginan untuk mendaki bersama mereka, hampir setahun saya mengenal mereka dan menginjak banyak tempat bersama mereka, tapi konon katanya jika kamu ingin melihat diri sesungguhnya temanmu maka ajak mereka mendaki, Gunung akan membuka semua sifat asli manusia. Dan akhirnya dengan masih berat hati dan berpikir keras akan ikut apa tidak, yang kemungkinan besar akan ikut, membuatku mulai latihan fisik dengan berlari-lari setiap hari dalam waktu hampir seminggu. Bagiku jangan pernah meremehkan gunung, sekuat apapun dirimu dan pikiranmu, gunung akan mengalahkan segalanya. Sangat perlu bagi kalian yang ingin mendaki untuk latihan fisik, entah itu hanya lari-lari beberapa jam dalam sehari dalam seminggu, ataukah berlatih dengan naik turun tangga untuk melatih lutut kalian, tapi harus istirahat 2 hari sebelum mendaki agar tidak terjadi trouble yang tidak diinginkan.

Hari keberangkatan akhirnya datang juga, dengan saya, Jiet dan kak gilang berangkat duluan dan yang lainnya menyusul sorenya karena kebanyakan masih kerja. pagi menjelang siang kami berencana berangkat menuju malino dengan disambut mogoknya motor kak gilang hahaha.. asli jujur disitu saya mulai parno jangan-jangan ini petanda, tapi semuanya berlalu begitu saja setelah motornya dibawa ke bengkel karena ternyata petanda itu hanya tukang bengkel yang tahu solusinya hahaha.. 
Kami melanjutkan perjalanan dengan hujan dingin yang mengiringi perjalanan kami. Sebelumnya kak ippang sudah membeli mantel plastik yang ringan untuk dipakai mendaki, dan saya coba duluan di motor untuk melihat kekurangannya hahaha dan ternyata kepalaku berpikir keras ini tidak akan mungkin menahan  rasa dinginnya hujan di atas gunung sana, untuk saya. Jujur dari awal membuatku menceritakan terus terang pada teman-teman sebelum kita berangkat bahwa saya betul tidak tahan dingin dan isi tasku beratnya hanya berisikan jeket besar dan tebal milik widwar yang jelas akan sangat membantu saat di gunung nanti, tak mau mengulang hal yang sama maka saya mempersiapkan dengan matang apa yang harus saya bawa dan akan saya pakai, membatasi isi tas karena jelas bahu wanita tak sekekar bahu para pria yang memikul carrier itu hahhaa.. dengan alasan itu jugalah saya meminjam mantel kak gilang yang mulai jalan saat hujan terus melekat rapat dibadanku tanpa sekalipun kulepaskan.

Sesampainya kami bertiga di malino, sekedar menghangatkan badan dengan teh dan beberapa jagung rebus yang masih hangat kemudian kami melanjutkan menuju rumah tata untuk beristirahat dan prepare barang sembari menunggu kedatangan teman-teman yang lain. awalnya karena takut waktu yang mepet bisa berakibat merubah jalur lagi dari rencana awal akan ke puncak menjadi ke ramma, jiet dan kak gilang berencana mau menyewa tenda agar kami naik duluan ke pos 5, tapi apa daya tempat penyewaan tenda tutup dan kembali kerencana awal menunggu teman-teman yang lainnya. 

Malam pukul 11.00 kami baru berangkat dengan diiringi doa, agar diberi cuaca yang baik dan keselamatan selama perjalanan. Saya, Dharma, kak ippang, kak rijal, kak gilang, jiet, widwar, wilson, muthar, dan kaji berjalan menapaki setapak demi setapak di malam yang dingin itu. Berangkat malam cukup memiliki resiko, beberapa kali kak rijal yang sebagai leader kehilangan jalur tapi hal itu tak berlangsung lama. saya tak ingin bercerita mengenai jalur-jalur post lagi karena itu sudah saya paparkan di postinganku 3 tahun lalu (http://warnahiduptashya.blogspot.co.id/2013/04/pesona-puncak-gunung-bawakaraeng-17-19.html), kali ini saya hanya ingin bercerita tentang mereka dan kisah kami selama di perjalanan.

Dari kami bersepuluh yang berangkat hanya 2 orang dari kami yang pernah menginjak puncak bawakaraeng, yaitu saya dan kak rijal. Jelas hanya kak rijal yang diandalkan, mana ngerti jalur saya, di kota saja nyasar apalagi mau di gunung hahhaha... Kami berjalan diselimuti dinginnya malam, Pos 1 terlewati dengan kami sedikit kebinggungan mencari jalur hingga sampai di pos 2, Dharma terjatuh dan mengeluh bahwa dia sudah tidak kuat lagi, kami semua kaget. disinilah mental diuji, awal perjalanan sudah saya peringatkan agar jangan terlalu berat beban yang di pikul kalau bisa seperti SB (Sleeping Bag) dan matras agar dioper ke teman-teman cowok, namun karena nekat membawanya sendiri akhirnya dharma menyerah dan mengoper sebagian barangnya barulah dia kuat untuk kembali melanjutkan perjalanan.  

Tiap pos terasa begitu berat dimalam yang dingin itu, membuat mereka selalu ingin 'standardua' istilah kami untuk istirahat. Namun saat di Pos 3, tempat yang seharusnya tidak untuk beristirahat karena terkenalnya cerita mengenai hantu noni yang bunuh diri di salah satu pohon yang ada di pos 3,karena itu jarang ada orang yang camp ataukah beristirahat di pos itu. Saya dan kak rijal jelas mengetahui cerita itu, dan kami memperingati agar tetap jalan tanpa menyinggung mengenai cerita itu, tapi teman-teman yang lainnya tidak mengerti dan tetap dalam posisi standardua, hanya saya dan kak rijal yang tetap berdiri dan saling memandang, dengan kak rijal yang memberi waktu mereka istirahat hanya 5 menit agar kita bisa kembali melanjutkan perjalanan. Bersyukur semuanya berjalan dengan baik-baik saja, kemudian kami mulai melewati pos 4 hingga akhirnya sampai di pos 5, dengan sedikit kecewa melihat begitu banyak tenda berjejer yang jelas menunjukkan akan banyak orang nantinya di puncak. Ketika sampai pukul 3 subuh kurang lebih, kami lalu membangun tenda untuk istirahat dan makan malam untuk menganti kelelahan kami selama dijalan tadi. 

Pagi Hari kami terbangun dengan cuaca yang cerah. Mungkin karena kelelahan perjalanan semalam, kami agak molor dengan waktu. Setelah membuat sarapan dan beberapa cangkir kopi,, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak. Pos 5 ke 6 kemudian pos 7 yang begitu terasa panjang dengan jalurnya yang memabukkan, yang hampir tiap pos kami disambut dengan hujan gerimis. beberapa kali diantara kami terjatuh, termasuk saya hahaha.. ataukah kehabisan cemilan, kehausan tidak ada sumber air semuanya itu punya kesan tersendiri.

Saat digunung semua sifat asli temanmu akan terbuka blak-blakan, itu terlihat jelas..
Kak ippang, yang ternyata kalau mendaki itu jabenya minta ampun hahaha sepanjang jalan pendakian dia pasti merengek menanyakan sudah sampai dimana, mungkin posnya pindah sendiri ataukah menanyakan puncak itu sebelah mana hahahha yang membuat saya dan dharma tertawa habis-habisan melihat sifat asli kak ippang di balik kedewasaan yang dia tunjukkan selama ini ternyata berbanding terbalik. tapi rasa pedulinya yang besar dan sikap siaga untuk hal-hal kecil serta sebagai seksi perlengkapan yang tak berubah sedikitpun.

Dharma, yang keras kepala dan kelihatan masih kekanak-kanakan, sebenarnya dia yang paling kuat jalan diantara kami karena dia yang selalu didepan dan jujur jalannya cepat sekali, hanya saja memang mendaki menguji mentalmu, dan jelas terlihat mentalnya yang belum kuat mungkin karena umurnya yang masih tergolong muda diantara kami. Akan tetapi percaya seiring berjalannya waktu, dengan melakukan banyak perjalanan akan mendewasakan orang (ini pesanku buat dhamaa). tapi dialah penolongku saat saya terkena Hipotermia, karena hanya berdua perempuan, rasa peduli itu membuat kami saling menjaga.
Kak Rijal, sebagai leader yang selalu diandalkan, memang terbaik. Dia selalu hanya punya 2 posisi, waktu mendaki naik menuju puncak dia ada di depan sebagai leader dan saat pulang dia ada di belakang menjagai teman-teman yang ada di belakang. Dialah yang tertua dan dia jugalah yang paling didengar hehe.. 
Widwar, yang selalu siap sedia diantara kami, entah itu membangun tenda ataukan memperhatikan kami. selalu sigap jika dimintai tolong apapun, dan tidak pernah mengeluh bahkan selalu mengumbar cerita lucu yang omong kosong sebenarnya hanya agar kami tertawa hahaha.. Dia ini andalan kami di gunung. 

Kak gilang, saya paling sering ngetrip sama kak gilang, dan dia tahu borosnya saya bawa barang itu kadang menyusahkannya, karena ujung-ujungnya barangku selalu saya oper ke dia, hal itu yang buat dia memeriksa tasku berulang-ulang kali. Orang yang peduli, perhatian dan rasa khawatirnya tinggi, sehingga membuatnya akan memperhitungkan segalanya agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan nantinya. Paling bisa diandalkan dan paling mau disusahkan hahaha.. yahh dia yang tanpa mengeluh sedikit pun berjalan memperhatikan sekeliling, mendokumentasikan perjalanan kami lewat video, tapi sekali mengeluh cuma bilang, " ..kapok deh mendaki.." hahahhaa... 

Wilson, ini jelas yang betul-betul tidak pernah mengeluh sedikitpun hanya bisa buat orang tertawa, herannya smua binatang selalu dekat sama dia, anjing di gunung saja dia temani main.. dan dialah penolong dharma, sebagai penampung SB dan matrasnya hahaha 2 bersaudara ini widwar dan wilson memang andalan saat mendaki...
Muttar, selalu mengeluh tapi segala hal itu buat dia selalu jadi bahan buat anak-anak.. memang kalau tidak ada muttar tidak akan rame karena tidak ada yang dicalla hahhaha.. tapi bro yang satu ini selalu siap dibebankan apapun kalau mendaki, agak binggung juga membahasakannya gimana karena dia selalu paling terus terang, sayang dia tidak terang terus hahahha...
Kaji, entah nama aslinya gimana tulisannya tapi saya panggilnya ya gitu, anak baru, bocah yang tiba-tiba mau ikut, teman anak-anak di lorongnya widwar tapi anak ini seru juga, Dia hampir sebagai pengembira karena punya tariannya sendiri untuk menghibur kami hahahha... 
Jiet Button, yang satu ini orang yang selalu tenang, ataukah memang hanya tenang yang dibuat-buat mau sok cool gitu, ngomongnya selalu ngaco dan tidak jelas, tapi dia selalu menegur kami jika ada yang tidak beres, suka jalan duluan, jalan sendiri, kasihan mungkin karena dia sudah lama sendiri hahaha.. dan yang paling anehnya, dia bawa dan makan pete di gunung, hal yang tidak mungkin orang NORMAL lakukan, gimana bokernya ataukah kentutnya di tenda yang bau pete ckckck tidak sayang nyawa teman-teman setendanya hahaha... 
Dan saya, hemm tidak ada orang yang bisa menilai dirinya sendiri tapi kata dharma saya terlalu keras dengan diriku sendiri, terlalu kepala batu, sudah rasa tidak kuat tapi tetap yakin bahwa diri sendiri mampu hanya karena tidak mau menyusahkan orang lain.. yah disinilah terlihat, mental lebih kuat dibanding fisik hahahha... itu mungkin sudah kusadari dari lama, karena ini bukan pendakian pertamaku.. hemm mungkin itulah yang masih menjadi kendalaku menaklukan si ego.. 

Hingga sampai di pos 8, yang membawa kami menikmati telaga bidadari, namun kami tak boleh terlalu lama ber'standardua' karena waktu yang semakin mendekati sore. Kemudian kami berlanjut ke pos 9 yang penuh rintangan dan jelas tenaga sangat berkurang, karena kurangnya ransum untuk cemilan. Melihat teman-teman lain yang sudah mulai melambat dengan hanya memberi semangat satu sama lain, rasa dingin sudah menyelimuti karena malam mulai menyapa, dan langkah mulai terasa berat sehingga untuk mencapai pos 10 terasa begitu melelahkan. Sesampainya di puncak, mereka mulai mencari tempat membangun tenda, karena ternyata di puncak begitu ramai dengan tenda-tenda para pendaki yang sudah sampai duluan, maklum masa liburan jadi agak ramai. 


Saat teman-teman membangun tenda, saya yang sudah lelah duduk dekat pohon besar, dengan bersadar pada carrier, badanku sudah bergetar hebat, bahkan terasa kaku dan hampir seperti mati rasa, tapi pikiranku masih menguasai, saya berusaha menahannya dengan sadar akan rasa takut, hal yang paling ku takutkan kembali menyerang. Bersandar pada carrier dan tanah yang dingin tidak memperbaiki keadaan, rasanya saat itu pikiranku hampir tertidur dan hampir tidak ingin berfungsi, hingga terdengar samar-samar suara widwar memanggil untuk masuk tenda, saya mencoba sadar dan membangunkan badan, tapi kaki yang kaku membuatku terjatuh dengan nafas yang tersengal-sengal, saya mulai dilanda kepanikan ketika dingin itu serasa sudah naik di ubun-ubun kepalaku, tubuhku tidak berhenti bergetar, telingaku sudah berdengung tak bisa mendengar dengan jelas, seperti lupa caranya bernafas, ingin berteriak dan menangis, tapi saya masih mencoba menahan diri dengan masih menguasai pikiranku, saya sudah berpikir dalam hati, ".. mati ma ini..." karena bahkan saya mengingat ibu dan adikku, seperti sudah mau mati rasanya, tapi dharma yang membuka seluruh bajuku, membantuku menganti pakaian yang basah, berusaha menghangatkanku dengan kompor yang dimasukkan didalam tenda dan terus memelukku, juga widwar yang cekatan memberikan SB untuk menutupi badanku, dan samar-samar terdengar rasa khawatir teman-teman yang lain di luar. saya kembali di serang Hipotermia. Hal yang paling saya waspadai tapi ternyata menyerang tanpa pemberitahuan. Tapi bersyukur ada dharma bersamaku, oleh sebab itu ku sebut dia penolongku. 

Keadaan sudah mulai terkendali ketika saya mulai membaik, dan beristirahat dengan agak tidak sadarkan diri. Hingga terbangun dengan bau harum ikan asin dan sup yang di masak oleh mereka. Kami mulai makan malam untuk mengisi tenaga yang telah terkuras habis. Ternyata bukan hanya saya yang kedinginan tapi kak ippang juga sudah meringkuk dalam SB. Setelah makan malam, saya dan dharma mulai pindah ditenda untuk berdua dan tertidur dengan sangat pulasnya akibat kecapekkan. 

Keesokan paginya, gerimis membangunkan kami dengan kabut yang tebal. saya sudah membangunkan dharma untuk naik ke puncak kali aja ketemu lautan awan, namun kelihatan sulit dengan kabut setebal ini. Kami kira teman-teman yang lain sudah bangun untuk siap-siap ke puncak, karena seperti kak gilang dan kak rijal yang selalu mengejar moment sunrise, tapi ternyata tidak ada satupun sepatu yang bergerak dari tempatnya yang artinya mereka semua masih tidur karena kelelahan. Bangun di pagi hari dengan istirahat yang cukup, tenagaku sudah kembali pulih, yang akhirnya membuatku gantian menyiapkan sarapan buat mereka, karena semalam tepar sehingga tidak bisa membantu sama sekali hahahja... Menyiapkan perkedel daging, dan sarden yang dicampur sosis jagung, karena sosis jagungnya dharma yang kurang diminati karena rasanya yang agak eneg, dengan pudding pandan dan vlanya yang ku buat untuk bekal kami turun nantinya, plus tambahan oseng-oseng. kami sarapan pagi dengan yang bergizi karena sebentar akan melanjutkan perjalanan lagi untuk turun gunung. Bahkan ada seorang cowok,pendaki lain yang bilang ke dharma, untuk titip salam buat yang goreng ikan asin semalam, hahahhaa ketika di ceritakan dharma, kami tidak berhenti ketawa karena jelas yang goreng adalah widwar, dan yang masak jiet hahhaha jadi masakkan mereka menarik hati pria lain hahhaha...

Kami mulai bersiap-siap packing lagi untuk turun gunung, tapi sebelum itu kami harus menginjak puncak dan tringulasi yang legendaris milik gunung bawakaraeng. Hanya saja cuaca kurang mendukung, dengan kabut yang cukup tebal, juga dengan banyaknya pendaki lain yang berada disana. Namun itu tidak menyurutkan semangat kami untuk berfoto-foto narsis ataupun tim, dengan bonus bunga edelweis yang baru muncuk pucuknya walau di jurang antara sela-sela kabut. Setidaknya kini sudah 10 orang yang telah sampai di puncak Bawakaraeng dan bendera Black_packer sudah di bentangkan di tringulasi Puncak Bawakaraeng. 
Kami kembali memikul tas dan carrier kami untuk melanjutkan perjalanan turun gunung, dengan harapan tidak ada hambatan apapun dan agar kami dapat pulang dengan selamat. Saat baru turun, kami kehabisan air, dan disinilah puding pandan dab vla ku berperan penting,,, jrenggg jreengggg hahaha kami berbagi puding yang telah terpotong-potong dan di bungkus plastik seadanya untuk penganjal rasa haus. Pos 10 ke pos 9 kemudian ke pos 8, banyak kami temukan orang-orang yang tidak kuat untuk mendaki lagi, kebanyakan cewek yang menyeret kakinya dengan isak tangis untuk kembali berjalan dengan dipegangi temannya,, Hal itu agak miris terlihat, jangan pernah hanya ikut-ikutan mendaki jika kalian tak persiapkan diri dengan baik, karena saat di gunung, setiap orang hanya bisa mengandalkan kekuatan dirinya sendiri. Hal itulah yang membuat kami, terutama saya dan dharma yang adalah perempuan harus membekali diri bahkan lebih dari para pria karena sadar akan keterbatasan kami sebagai seorang wanita. 

Mulai Pos 7, hujan deras menyambut dengan tidak ada jeda sama sekali, kami tak bisa berlama-lama ber'standardua' karena waktu yang harus kami kejar agar bisa sampai di lembana sebelum malam. pos 6 terlewati hingga menuju ke pos 5 dengan kabut yang dingin dan hujan yang tak kunjung berhenti, Hiportemia kembali mengusikku, badan yang mulai bergetar, telinga yang berdengung dan nafas yang tersenga-senga karena oksigen yang menipis, membuatku jatuh terduduk dengan pikiran yang seperti membeku, Tak terasa apa-apa, ketakutan mulai menyapa, dengan melihat dharma yang terus berbalik kebelakang saat berjalan pun akhirnya kembali berlari kearahku bersama widwar, kak gilang yang terjatuh langsung bangun untuk mendekatiku diikuti kak rijal. Samar-samar tak jelas pendengaranku, hanya yang ku tahu, saat dharma mencoba memasukkan tangaku yang dingin di dalam perutnya, tapi saya menarik tanganku karena takut dia akan mengalami hal yang sama, jujur disitu emosiku sangat tidak terkontrol, kemudian disusul kak gilang yang berusaha menenangkanku, sementara kak rijal yang berusaha mengambil tasku karena berpikir saya tak sanggup memikul tasku sementara perjalanann masih jauh, itu jelas membuatku mengamuk karena itu sudah mengusik prinsipku, bagiku adalah kebanggan bila apa yang ku pikul naik itu juga yang harus ku bawa turun. Akhirnya widwar menantangku, apakah bisa jalan dan saya menjawab bisa dan kami kembali melanjutkan perjalanan dengan saya berusaha melawan segala ketakutan dan rasa dingin itu. 

Sesampainya kami di pos 5, ternyata banyak yang sedang beristirahat, akhirnya kak ippang memasak mie dan telur untuk penambah tenaga, sementara kak gilang berusaha menghangatkan, widwar dan dharma serta teman-teman yang lain kembali menyalakan kompor agar terasa lebih hangat sambil memakan mie. Yahh nutrisi memang kembali menambah semangat, mantel kak gilang yang selalu saya pakai akhirnya saya double dengan jeket widwar, dan kami kembali melanjutkan perjalanan, dengan terkadang kami salah jalur, teman-teman yang sudah kelelahan, dan waktu yang sangat meleset, sehingga hampir tengah malam kami baru sampai di lembana, rumah tata. dengan sedikit bersih-bersih, kami berganti baju bersih untuk kembali naik motor pulang ke makassar. 

Rasa lelah dan letih, juga tidak mendapatkan pemandangan terbaik milik puncak bawakaraeng karena kabut, banyaknya kendala, juga saya yang kadang membuat mereka khawatir tapi itu semua tergantikan dengan kebersamaan kami. Melewati perjalanan yang tidak mudah, saling perduli satu sama lain, saling melengkapi, saling menjaga, saling berbagi, dengan mendaki kita seperti telah membuktikan arti persahabatan kita selama ini tak sia-sia, tepat setahun kita saling mengenal, walau tidak semua diantara kita tapi beberapa sudah mewakili.  
Hal itulah yang membuat kami tidak ragu, Kami telah melewati banyak perjalananan, menginjak banyak tempat indah bersama-sama, banyak cerita, banyak tawa dan canda, banyak suka maupun duka, bertemu dengan banyak orang hingga akhirnya kita bertemu dan bersama-sama. Gunung seperti membuktikan banyak hal mengenai  pribadi kami masing-masing, agar kami sadar akan begitu luar biasanya ciptaan Tuhan ini, sehingga tak ada artinya kami yang kecil ini jika tidak bersama-sama untuk saling melengkapi. 
Blacks, kalianlah yang terbaik!!


4 comments:

  1. Ulang ke sana lagi deh kaka..
    wKwkwkkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baca ini seperti flashback kembali toh ke perjalanan kita dulu hahaha.. saya tantang ko temani ma saja ke latimojong setelah lebaran nanti hahahhaa....

      Delete
  2. hahahhaha latimojong next di sikat deh... ndk boker ma di puncak, terakhir ma itu naik bawakaraeng hahahaha :D

    ReplyDelete