Tuesday, 24 May 2016

Film 1 Cinta di Bira, membangkitkan kenangan..


Sebuah keberuntungan mendapat undangan untuk menyaksikan Film 1 cinta di Bira, secara premiere dari para teman-teman blogger. Menonton film ini seakan membangkitkan akan kenangan lama mengenai Tanjung Bira. Keinginan terbesar menonton film ini, ingin menyaksikan akting teman kami yaitu Om Awaluddin Tahir yang berperan sebagai Om Rustam dalam film ini. Yang jujur, om awal keren banget aktingnya hahaha yang tak habis kami candai dengan "Om Rustam ternyata jahat ki hahaha.." yang sebenarnya berbanding terbalik dengan aslinya yang baik hati hehe... Memerankan peran seperti protagonis yang ternyata antagonis hahaha jempolan aktingnya..

 

Film ini bercerita tentang iqbal, seorang anak yang sudah 6 tahun tidak pulang ke Bira karena lebih memilih karirnya di Jakarta dibandingkan usaha kapal pinisi milik keluarganya. Namun kabar meninggalnya sang ayah memaksanya untuk harus pulang ke bira dan diamanatkan untuk melanjutkan usaha kapal pinisi. Akan tetapi trauma akan kenangan masa kecil saat pernah tengelam membuatnya takut pada laut. Saat mengunjungi tempat usaha milik ayahnya, kemudian dia tergelincir dari kapal, tengelam dan pingsan. Ketika tersadar saat di tepi pantai, dia melihat seorang gadis cantik yang tersenyum padanya. Dia langsung berpikir perempuan itu adalah sang "penjaga laut" yang dulu pernah menolongnya saat kecil. Ternyata gadis itu adalah anak dari Om Rustam sahabat ayahnya. Namun kedekatan antara Devi dan Om Dustam dengannya, membuatnya ingin menjual tanah ayahnya di bira. Tapi kemudian kakak beradik yaitu Olla dan Enre, berusaha menghentikannya. Olla kemudian menunjukan akan cinta dan betapa indahnya alam Bira juga kebaikan hati ayah iqbal sebagai penduduk asli Bira yang bersahaja dan sangat dihormati. (cerita lebih lanjutnya langsung nonton ya hehe..)

Sebuah kisah percintaan yang dibumbui dengan keindahan alam bira yang menakjubkan. Sebuah film yang sangat recommended, karena mengajarkan untuk melestarikan alam dan budaya. Konon katanya Bira memiliki 'Penjaga atau Penolong laut' sehingga tidak pernah terdengar ada korban yang tengelam di bira. Sering juga terdengar konon ada penduduk asli bira yang pernah menikah dengan putri duyung, sang penjaga laut bira. yahh itu sihh konon... Dibalik semua cerita dongeng itu, percaya tidak percaya tapi buat penasaran maka film ini wajib di nonton buat kamu yang penasaran maupun kamu yang merindukan kembali ke bira ataukan kamu yang sangat ingin ke bira namun belum kesampaian, kali aja dengan melihat film ini, kembali rasa rindu muncul, seperti halnya saya.

Beberapa scene lokasi tempat syuting film 1 cinta di Bira, mengingatkanku akan kenangan lama. Longweekend 17 agustus 2015 kami melakukan trip ke bulukumba tepatnya di tanjung bira. Trip 4 hari 3 malam ini membawa kami kebeberapa tempat favorit di Bira.
Pantai Bara
Hari pertama kami camp di Pantai bara. Pantai bara ini cantiknya ibarat saudara kembar dengan pantai bira, terletak satu garis pantai yang sama, yang bahkan bisa ditempuh dengan berjalan kaki jika dari pantai bira. Pantai Bara ini dihiasi dengan jejeran banyak pohon kelapa beralaskan pasir putih yang menyilaukan dan air laut berwarna biru toska. Jalur yang ditempuh untuk ke pantai bara ini, bisa dengan berjalan kaki di tepian pantai dari pantai bira namun itu bisa di lakukan jika air sedang surut, ataukah mengunakan kendaraan mobil dan motor pribadi yang akses jalan kesana tidak terlalu mulus. Namun kendaraan dapat di parkir di tempat yang telah disediakan. Ada beberapa penginapan besar yang bisa disewa di sana, ataukah para backpacker yang memilih mengelar tenda atau menggantung hammock ditempat yang telah disediakan tepat didepan pantai. Itulah yang kami lakukan yaitu berkemah di tepi pantai di lokasi yang telah disediakan. Saling bercanda tawa dengan beberapa cangkir kopi setelah makan malam sederhana kami, menunggu hari esok yang akan kembali membawa kami di sudut lain tanjung bira ini. 

Pantai ujung tiro
Hari kedua kami ingin ke pulau kambing, namun karena longweekend membuat tak ada kapal satupun yang bisa disewa. karena alasan itulah membawa kami ke sebuah pantai bernama ujung tiro, sayangnya menemukan tempat ini tidaklah mudah, akses jalan setapak yang belum rampung di kerja ataukah tidak ada papan petunjuk maupun gerbang sebagai petanda bahwa adanya tempat wisata. Pantai Ujung tiro ini terletak di Kelurahan Ekatiro, Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba, berada sekitar 4 km dari pantai samboang. Tempat ini dihiasi tebing-tebing curam dengan banyak batu-batu cadas, namun dilengkapi dengan tangga dan jembatan kayu juga ornamen dermaga kecil diantaranya yang menyambungkan pada tebing karang curam yang ditabur dengan beberapa pohon beranting banyak tanpa daun. Namun di situ bukan merupakan tempat menginap yang cukup baik, karena beralaskan banyak bebatuan yang tak memungkinkan kami untuk membangun tenda. Sehingga kami hanya bisa mengikat hammock dan tidur beralaskan matras. Hal terbaik yang disajikan pantai ujung tiro ini yaitu sunrise yang luar biasa, diwaktu subuh dimulai proses bulan besar dan bulat seakan lebih tinggi dari pohon yang tengelam digantikan matahari yang siap menyinari.

Pantai Apparalang

Hari ketiga kami di pagi yang terik, membawa kami di pemberhentian kami yaitu Pantai Apparalang. Masih sebuah pantai dibalik tebing bebatuan cadas. Birunya air laut bagai sebuah cermin berwarna buru toska, dipadukan dengan karang-karang dari dinding tebing yang menjulang tinggi menjadi daya tarik yang sayang jika tidak diselami. Pantai Apparalang terletak di Desa Ara, Kecamatan Bontobahari kabupaten Bulukumba, Sulawesi selatan. Akses ke Pantai Apparalang ini bisa mengunakan motor atau mobil, jarak yang ditempuh sekitar 20 menit jika dari Pantai Bira dan sekitar 60 menit jika dari pusat kota bulukumba. Fasilitas yang disediakan cukup lengkap dengan beberapa kamar mandi umum, gazebo peristirahatan dan juga area parkir yang aman. Pantai Apparalang beberapa hari sedang ditutup namun beruntungnya saat kami ke sana sudah di buka kembali. Melihat lautan biru yang bening membuat kami tak tahan untuk turun sekedar snorkling ataukah freedive di sana. Meloncat dari tepi dermaga panjang agak sedikit riskan oleh karena banyak batu karang tajam yang berada di sekeliling dermaga, juga arus atas dan arus bawah yang cukup kuat sehingga tidak disarankan untuk snorkling disana bagi para pemula. Berhubung 17 agustus jadi kami mengibarkan bendera di bawah laut. 


Yahh kira-kira itulah beberapa tempat yang saya kenali saat menonton film 1 Cinta di Bira. Tempat-tempat yang indah dikemas dalam satu rangkaian cerita yang membuat para penontonnya menjadi rindu, entah itu rindu untuk kembali lagi, rindu mengenang kenangan lama, ataukah rindu untuk betul-betul menginjakkan kaki di tanah Bira. Sebuah film yang wajib di nonton oleh orang makassar hahaha karena logat makassar yang begitu kental. Bukan ingin mencampur cerita film 1 Cinta di Bira dengan cerita tripku, namun hanya sekedar berbagi, kali aja ada yang habis nonton Film 1 Cinta di Bira langsung pengen ke lokasi-lokasi yang ada di beberapa scene tapi binggung akses kesana ya gimana. Semoga rincian beberapa tempat diatas dapat membantu ya... tapi selain itu masih ada Tanah Beru, Puncak pua janggo dan masih banyak lagi tempat-tempat yang dapat di eksplore jika ke Bira, yang juga belum saya datangi hehe masih penasaran dengan Bira...

Maka jangan lewatkan tayangan perdana Film 1 Cinta di Bira tanggal 26 Mei 2016 di Bioskop Cinema 21 kesayangan anda, di Jakarta, Tangerang, Bekasi, Sulawesi, dan Kalimantan.Seperti halnya kami, kalian kudu nonton film ini, ajak teman-teman trip dan keluarga untuk ikut menonton agar muncul inspirasi cemerlang untuk kembali ataukah harus menginjakkan kaki di Tanah Bira, Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Selamat Menikmati kawan... 

No comments:

Post a Comment