Thursday, 17 March 2016

Menyelami keindahan Wakatobi #Part4 - Patuno milik Pulau Wanci

Pagi-pagi sekali kami sudah bangun dan bergegas bersama carrier kami menuju ke dermaga, tempat kami janjian dengan pemilik kapal ojek yang akan kami tumpangi. Bukan kami akan menuju pulau wanci dengan kapal ojek, namun ternyata kapal kayu yang akan menuju wanci tidak lewat di dermaga pulau hoga. masih terasa sensasinya ketika kapal ojek itu balap untuk mengejar kapal kayu yang akan melintas, seakan-akan kapal kecil itu siap akan menerjang kapal kayu yang begitu besar. Dalam hati saya hanya bertanya apakah kapal kecil ini punya rem atau tidak, karena semakin dekat malah semakin kencang ternyata saat hampir mendekati, dengan santainya dia seperti mulai memiringkan badan kapal untuk merapat pada badan kapal yang besar. Agak sedikit lega karena sang bapak pengemudi kapal ojek ini tidak terlihat seperti rossi ataukan michael schumacher, tapi saya mengakui dia pembalap dibidangnya hahaha.. 


Dengan berbaik hati para penumpang kapal besar yang tergolong kebanyakan bapak-bapak menolong kami mengangkat barang kami. Dengan memberikan uang 50ribu kami mengucapkan terima kasih pada sang bapak kapal ojek, yang telah mengantar kami dan ternyata dia juga yang mengangkut kami saat dari pulau kaledupa ke pulau hoga. Kembali berlabu, entah ini sudah kali keberapa kami berada diatas kapal, tapi kali ini yang menjadi terakhir kali di pulau wakatobi karena tujuan kami kali ini adalah peberhentian terakhir kami. Setelah hampir seminggu melewati 5 pulau wakatobi, mulai dari Kota Bau-bau, melanjutkan ke pulau Tomia, kemudian ke pulau Kaledupa dan Pulau Hoga, hingga yang terakhir ini yaitu Pulau Wanci. Sebenarnya masih ada satu pulau lagi yaitu Pulau Binongko, yang merupakan pulau yang letaknya paling jauh tapi tidak masuk dalam list kami. Karena kata kak gilang, kalau sampe ke binongko juga bukan lagi trip namanya ini tapi bisa disebut ekspedisi hahaha... 
Kepulauan Wakatobi sering disebut kepulauan tukang besi, oleh karena penduduknya sejak dulu mengembangkan keahlian mereka dibidang tukang besi. Pulau wangi-wangi atau lebih akrab dikenal dengan pulau wanci, berjarak tidak jauh dari kota Pulau  Hoga. Kapal kayu yang kami tumpangi berlaju kencang selama hampir 2 jam. karena waktu yang dibutuhkan tidak terlalu lama, maka kami hanya duduk di roof kapal, banyak penumpang juga yang duduk di bagian atas kapal sambil melihat pemandangan matahari terbit yang gagah berani. ada tempat yang seperti atap yang digunakan para penumpang untuk sekedar beristirahat ataukan menaruh barang-barangnya.

kapal berlaju dengan angin sepoi-sepoi yang menyapa helaian rambut, mengingatkan akan apa yang sudah terlewati hingga akhirnya besok kami akan terbang kembali ke kota makassar. Pengalaman yang tak terlupakan, seperti tak pernah lelah mencari tempat-tempat destinasi yang telah menjadi list kami, dibuat kagum dengan alam bawah lautnya, berburu kapal untuk berangkat kembali, semuanya bagai mengejar waktu agar tak ada waktu dan kesempatan yang terbuang dengan sia-sia. Namun kami tidak niat untuk mengeksplore pulau wanci, karena waktu yang begitu singkat dan memang kami ingin pulau wanci menjadi tempat beristirahat kami. Kami sudah mempersiapkan segalanya dengan memesan kamar secara online di salah satu resort terbaik milik pulau wanci yaitu Patuno resort. Harganya cukup terjamin dengan fasilitas dan pemandangan yang memanjakan mata.
Kapal yang telah sampai di dermaga pulau wanci segera menepi, kami membayar 40ribu untuk tiket kapal dan itu adalah uang terakhir kak gilang. Mulai menginjak pulau wanci dia tak punya sepeserpun karena diving di hoga hahaha... kemudian kami mulai mencari tukang ojek untuk menuju ke patuno resort, dengan biaya ojek 50ribu karena jaraknya cukup jauh dari dermaga hingga ressort, yang ternyata begitu dekat dengan bandara. Melewati rumah-rumah penduduk yang sederhana, dan jalan menuju resort begitu sepi. Gerbang besar patuno resort menyambut kami, begitu masuk terlihat hamparan lautan didekat lobby dan memang resort ini berada dipinggir pantai. Dan yang menarik mataku, kembali kutemukan ada 2 ayunan besar yang menghiasi keindahan pantai. Tak menunggu lama, kami disediakan mobil untuk diantarkan ke kamar yang akan kami tempati karena jaraknya yang cukup jauh. Setelah bersih-bersih kami tidak langsung beristirahat, namun kami memilih berjalan kaki mengelilingi resort. 
Resort ini memiliki dive center sendiri, namun kami tidak membuat rencana untuk diving lagi karena yang terbaik sudah kami dapatkan di pulau tomia dan pulau hoga. berkeliling menemukan sepanjang kamar kami disisi dalamnya berhadapan dengan tebing dan sisi luarnya berhadapan dengan laut. kemudian melewati dermaga kayu yang berada didepan restoran, yang jelas sudah dipermak seindah mungkin dengan tempat duduk dan hiasan kayu yang lucu dengan menghadap sebuah pulau didepannya yang tengahnya lubang hahaha... Begitu menikmati pemandangan, sambil berfoto-foto dan mengamati anak-anak suku bajo yang bermain-main dengan mengayuh perahu kayu. Pulau wanci memiliki perkampungan suku bajo yang terkenal dengan keahlian mereka sebagai nelayan, dan anak-anak suku bajo conon begitu jago berenang. Mengamati anak-anak itu bermain perahu ditengah laut tanpa takut sedikitpun terlihat begitu bahagia, sangat berbeda dengan anak-anak kota yang bahkan masih SD mainannya hanya seputar gadget, miris ya. setelah puas berfoto-foto dan menikmati keindahan yang disajikan patuno resort. Kami memesan makanan yang kemudian akan diantarkan ke kamar, setelah selesai makan kemudian kami beristirahat. Akhirnya badan ini berbaring dikasur yang empuk setelah beberapa penginapan sederhana yang kami lewati hanya terdiri dari tempat tidur kayu dan kasur kapuk, ruangan AC yang dingin membuat kami menginggat kembali panasnya dan banyaknya nyamuk di pulau hoga. Semua hal terlewati dengan tidak percuma, selalu ada cerita didalamnya. Walau tak menjelajah pulau wanci, namun wanci menjadi tempat istirahat kami sebelum besok pagi harus bersiap-siap kembali terbang menuju kota makassar. Begitu puas dan tak ada yang disesali, namun selalu ada rasa berat ketika mengingat besok akan kembali back to reality hahaha... 
Yang sangat disayangkan kami menghabiskan malam dengan ketiduran yang jelas salah karena kami melewatikan begitu saja malam terakhir kami di pulau wanci hahaha.. kekenyangan dan tak bisa move on dari empuknya kasur karena kelelahan membuat kami tidak menikmati malam terakhir kami di patuno ini. Pagi-pagi kami sudah dijemput oleh pihak resort untuk sarapan dan diantarkan ke bandara. Hal yang menjadi plus yaitu resort menyediakan kendaraan untuk mengantar dan jemput saat akan ke bandara ataukah pelabuhan. 
Wakatobi sungguh siap membuatmu jatuh cinta akan keindahannya. Kembali bertambah satu pengalaman yang tak terlupakan. Tiap tempat yang kami lewati punya cerita dan tawa, hal-hal bodoh yang kami lakukan untuk mengisi kekosongan, tiap sudut tempat indah yang kami bingkai dalam lensa kamera memiliki arti. Tak ada hal yang sia-sia dalam sebuah perjalanan, hal itu akan membuatmu mengerti akan arti sebuah kehidupan, hal itu akan membuatmu lebih peduli akan sekitar dan sesamamu, peka dalam setiap hal yang kami jumpai, dan lebih mengenal satu sama lain. Traveling bukanlah hal yang mudah, menyusun itinerary berserta  list tempat yang harus dan kudu kami injak, mengerti akan situasi langkah apa yang harus kami ambil, terutama bertanggungjawab akan diri masing-masing. Thanks wakatobi untuk semua keindahan dan kenangan yang kau berikan sebagai salah satu pelajaran penting yang kembali mengisi cerita dalam perjalanan kami

Traveling - it leaves you speechless, then turns you into a storyteller 
~Ibnu Battuta~


No comments:

Post a Comment