Tuesday, 19 January 2016

Gigitan Kalajengking Pulau Selayar


Pulau Selayar sudah menjadi impian sejak lama, akhirnya bisa menjelajah pulau selayar merupakan hal yang Luar Biasa. Setelah rencana yang cukup matang namun bisa juga disebut dadakan karena kepastiannya disaat-saat terakhir tak menjadi hambatan kami untuk menjelajah pulau selayar…



Pulau selayar merupakan pulau kecil yang berada di kabupaten selayar Sulawesi Selatan. Kabupaten selayar ini adalah kabupaten kepulauan dengan 95% daerahnya merupakan perairan, 5% terdiri dari 123 pulau dan 62 pulau yang berpenghuni. Ibukota pulau selayar yaitu Kota Benteng. Dari Makassar ke Tanjung Bira membutuhkan waktu kurang lebih 6 jam lebih.  Dari bulukumba baru bisa menyeberang mengunakan kapal penumpang selama kurang lebih 4 jam. Namun jika kalian ingin alternative lain untuk ke Selayar dapat mengunakan bus travel ataukah mobil travel (Fiska Travel) yang akan menjemput mulai dari kota Makassar sampai ke tanjung bira bulukumba kemudian dipenyeberangan hingga sampai ke pulau selayar.
 Saya bersama kak gilang dan 4 orang teman baru lagi dari jogja yaitu Dela, Zahro, Wanda, dan Ilham bersama-sama mengunakan Mobil yang telah kami sewa dari Makassar menuju Tanjung Bira Bulukumba. Kami berangkat hampir tengah malam, dengan mengunakan mobil sewaan dan bermodalkan driver yang handal yaitu Zahro hahahaa akhirnya kami bisa sampai jam 4 subuh di tanjung bira. Kami memilih beristirahat sebentar sekedar minum teh hangat dan makan mie instan yang di buat ibu pemilik warung dipinggiran pantai tanjung bira yang luar biasa mereka standby dan mau menyajikan makanan kepada kami ditengah subuh saat itu.
Setelah itu kami ingin beristirahat sebentar sambil menunggu teman-teman yang ingin sholat karena kebetulan keberangkatan kami ini mengambil keselip-selipnya libur lebaran haji. Kami memutuskan menumpang di rumah haji yang menjadi kenalan ilham, yahh bersyukur kami diberi kesempatan beristirahat dan setelah kembalinya teman-teman yang telah sholat, kemudian kami disajikan makanan dengan sekedar bercerita dan bercanda gurau bersama pak haji dan anaknya yang kemudian membuatnya ingin membawa kami kepenginapannya di Bara beach.
Tempatnya sederhana dan bersih karena tata ruangan dan penempatannya begitu cantik namun menurutku pemandangannya yang terbaik dan eksklusif, karena penginapan ini berada tepat ditebing pada tepi pantai di tengah-tengah antara tanjung bira dan pantai bara.

Kebetulan kemarin sempat foto, bisa menghubungi tanjung bara resort ini jika ingin menginap didaerah sekitar bara beach.
Kisaran harga sewanya sekitar 500ribu 1 kamar/malam atau 1juta 2 kamar/malam dan kebetulan penginapan ini hanya memiliki 2 kamar jadi jika kalian menyewanya kalian seakan-akan menyewa 1 penginapan secara keseluruhan. Namun karena ilham yang sudah dianggap hampir seperti anak sendiri, kami diperbolehkan beristirahat gratis dipenginapan ini. Dan sebaiknya memang seperti itu, memiliki etika yang baik saat traveling akan membantu kamu mendapatkan banyak teman dan banyak kebaikan hati orang lain juga. Hehe Makasih haji.

Karena kebetulan hari raya maka keberangkatan kapal penyeberangan tidak ada di pagi hari, padahal biasanya jadwal keberangkatan kapal dalam sehari yaitu jam 8 pagi dan jam 3 siang. Akhirnya kami mendapatkan jadwal penyeberangan jam 3 siang, setelah puas bersantai ataupun membersihkan diri di penginapan kami di antarkan ke pelabuhan penyeberangan. Biaya penyeberangan 398ribu/mobil itu sudah include dengan penumpang didalamnya.


Kapal penyeberangan yang digunakan sangat bagus, kapal besar dengan 3 lantai, yaitu lantai bawah sebagai parkiran kendaraan yang akan menyeberang, lantai tengah terdiri dari banyak kursi-kursi yang bisa digunakan penumpang untuk duduk dengan fasilitas televisi, kemudian lantai paling atas agak sedikit terbuka dengan ada tempat duduk di pinggirannya biasanya penumpang yang ingin menikmati perjalanan mencari posisi duduk disitu. Menikmati perjalanan kami Selama di kapal dengan bercanda gurau, berfoto-foto atau bahkan berkenalan dengan orang-orang setempat.
Setibanya di Selayar kami sudah akan langsung menuju rumah Om Acca. Teman yang biasa menampung anak-anak Blackpacker jika keselayar, karena sedang hari raya akhirnya kami tinggal dikampungnya tepatnya dirumah saudara om acca yang baik hati. 

Selayar baru terlihat dari rumah om acca saja sudah seperti begitu luar biasa, rumah yang di seberangnya sudah bibir pantai yang dihiasi pohon-pohon kelapa, membuat kami tidak sabar untuk hari esok agar bisa mengeksplore selayar. Setelah bercengkrama dan makan malam, om  acca maupun keluarganya begitu welcome kepada kami hahaha itulah mengapa tak heran anak-anak blackpacker ketagihan menumpang dirumah om acca hahaha…

Rencana berubah ketika akhirnya 4 orang yaitu della, wanda, zahro dan ilham memutuskan untuk ke takabonarate, oleh karena penelitian yang dilakukan della yang berhubungan dengan parawisata yang mengharuskannya datang jauh-jauh dari jogja. Dan akhirnya hanya menyisakan saya dan kak gilang karena waktu yang tak nuntutin karena kami hanya ijin cuti selama 4 hari, sebelum hari senin kami sudah harus balik kemakassar.

Keesokan paginya, setelah sarapan dan minum teh sekedar bercerita lepas, terjadi hal yang begitu yahh entahlah bisa disebut lucu ataukah sial yah lebih ke ngeri sih buat saya hahhaa.. sambil duduk-duduk di karpet tiba-tiba lututku salah terkena sesuatu yang mengigit seperti sengatan, pertamanya ku kira anjing tanah agak terkejut dan sedikit berteriak yang membuat kak gilang dan om acca panik, ternyata setelah dilihat oleh om acca yang mengigitku ternyata kalajengking hahahaha… paniknya kak gilang langsung ingin mengangkat kaki celanaku, tapi karena mengunakan celana jogger akhirnya terpaksa harus dilepas dan pakai sarung, dengan mengikuti cara tradisional om acca, kalajengki yang mengigit harus dimatikan kemudian ditaruh ditempat yang disengat dan ilham mengikat kakiku agar racunnya tidak menjalar, sambil menunggu bidan untuk disuntik hiksss :’( mengerikan apalagi ada candaan om acca yang katanya harus disuntik 5 kali sambil semua tertawa-tawa mengoda. Ohh my god.. tidak.. Untuk menutupi rasa panikku, saya hanya tertawa dengan muka lesu. 
Namun agak sedikit lega ketika ibu bidan datang menyuntik cairan yang kemudian diikuti dengan mengalirnya darah keluar yang katanya sih itu racunnya dan ternyata sangat ampuh rasa sakitnya hilang begitu saja, kemudian saya diberikan obat beberapa macam sebagai antibiotik ataupun penghilang rasa sakit karena jika efek obatnya hilang, rasa sakitnya bisa kembali. Yahh dan saya heran, kenapa bisa saya hahaha tapi itu menjadi cerita tersendiri dan pengalaman berharga buatku.
Sambil menunggu teman-teman yang lain mengurus ke taman nasional untuk keberangkatan mereka ke tinabo, kami sudah memiliki list dan om acca sebagai guide kami. Ohya sekedar info, bagi kalian yang ingin ke Takabonarate/ Tinabo jika ingin menyeberang harga kapal yaitu 4 juta yang bisa memuat sekitar 15 orang yang pastinya harus melapor terlebih dahulu ke taman nasional terutama jika ingin Diving.

Gua Tajuiya 

Tempat pertama yang kami kunjungi yaitu Gua Sumur Tajukia, Sebuah gua yang memiliki air didalamnya yang terkadang digunakan masyarakat setempat sebagai sumber air, banyak disekitarnya pipa-pipa raksasa yang berguna mengalirkan air bersih kedaerah-daerah. Ketika dikatakan om acca bahwa air ini bisa bikin awet muda dan lancar jodoh, saya langsung tanpa sadar meminumnya dengan teguhan dari tangan, kaget melihatnya langsung om acca bertanya, “serius diminum?hahaha..” saya langsung memuntahkannya, karena memang airnya agak pahit hahahaha kena jebakan Batman lagi deh…. Tapi view Gua Tajukia ini memang sangat bagus, hampir seperti Gua pandul di jogja.
                                                                                                              
Kampung Penyu
Setelah puas berfoto-foto, kami beranjak menuju destinasi berikutnya dengan masih bertiga menuju Kampung Penyu yang terletak di pesisir barat selayar, tepatya di desa Barugaia kecamatan Bonto Manai, Kabupaten kepulauan selayar, Sulawesi selatan. Sebuah kawasan pesisir pantai sepanjang 700 meter, yang berjarak sekitar 10 km dari ibukota Selayar, tempat ini sebagai tempat wisata pelepasan tukik ke alam bebas. Saat kesana, kebetulan tukik-tukik masih sedikit karena telur-telurnya masih dipemangkaran. Kami hanya memberi sumbangan untuk kemajuan dan pengembangan pemangkaran penyu.

Setelah dari Kampung penyu, Kami beristirahat di Tempat Biasa yang biasa menjadi tempat kumpul anak-anak muda selayar, Sambil menunggu teman-teman yang pergi sholat jumat, sekalian janjian ketemuan dengan teman-teman yang telah selesai mengurus di taman nasional untuk berangkat ke Tinabo. Sekedar mencari makan siang Dan saya yang beristirahat karena efek bekas gigitan kelajengking yang mulai terasa kembali dan mengharuskan kembali minum obat dari ibu bidan hahaha….
Setelah berkeliling ke beberapa rumah teman-teman om acca yang mengundang kami untuk sekedar makan siang, sekaligus perayaan lebaran haji.

Perkampungan Tua Bitombang

Kami melanjutkan perjalanan menuju Perkampungan Tua Bitombang, yang merupakan kampong tertua di pulau ini. Keistimewaan perkampungan tua ini adalah rumah-rumah beratapkan bambu dengan penopang dari batang-batang kayu yang menjulang tinggi dibawahnya sehingga menjadi penopang yang membuat jarak yang cukup tinggi antara permukaan tanah dengan rumah.

Tiang-tiang rumah menggunakan kayu bitti atau holasa yang memilki kualitas yang baik, sehingga mengapa pondasi rumah-rumah ini sangat kokoh walau berusia ratusan tahun. Dengan Keunikan Topigrafi desa yang berbukit membuat tiang-tiang penopang tidak merata tapi harus membuat rumah diatasnya menjadi rata, untuk saya yang seorang civil engineering ini adalah hal yang luar biasa dan hal yang baru lagi. Kemudian setelah berkeliling, mengambil beberapa kutipan foto-foto dan berkeliling desa cukuplah membuat kami yahh mungkin saya yang agak sedikit ngos-ngosan karena hemm mungkin efek kalajengking lagi ya hahaha….
Gong Nekara dan Jangkar raksasa

Setelah lelah berkeliling, waktu yang hampir menjelang sore hari ingin berkunjung dibeberapa benda sejarah yang unik, yaitu Gong Nekara yang berasal dari zaman perunggu, yang berbentuk seperti gong raksasa dengan gambar binatang, gajah, pohon kelapa, bintang, ikan, katak, burung merak, bangau dan ukiran-ukiran disekelilingnya. Mendengar sejarah yang diceritakan oleh penjaganya bahwa gong seperti ini banyak tersebar diseluruh dunia dan salah satunya yaitu di selayar, namun konon jika gong ini dibunyikan maka akan terdengar diseluruh pelosok dunia. 

Kemudian benda sejarah berikutnya yaitu Jangkar raksasa yang terdapat di Pantai Padang. Jangkar ini merupakan jangkar kapal besar asal cina milik seorang saudagar bernama Gowa Liong Hui yang dulunya pernah singgah dipulau ini, dan beberapa meriam besar yang membuatku entah mengapa ini selfie bersama meriam ini hahahha salah satu hal bodoh yang tanpa sadar pernah kulakukan.
Lalu kami melanjutkan perjalanan di pelabuhan desa nelayan padang yang hanya berjarak berapa kilo dari tempat jangkar raksasa, disekitar pelabuhan banyak anak-anak kecil yang mungkin anak nelayan disekitar pelabuhan, mereka cukup banyak dan bergerombolan mengikuti kami, yang membuat kami mengajak mereka foto-foto bersama atau bahkan membuat video bersama om acca yang mengajarkan mereka mengucapkan “Kak Jiet button jelek, kak cakra PHP” sebagai umpatan buat teman-teman kami yang tidak ikut ke selayar dan hanya modal janji saja hahaha… tapi sulit untuk mereka mau kompak untuk mengucapkan itu semua, namun setelah dibelikan permen 1 bungkus sama kak gilang itu smua hilang, mereka mengucapkannya dengan suara yang lantang bahkan agak sedikit berteriak bahkan terus-terusan mengulanginya mengiring perjalanan kami yang membuat kami tak berhenti tertawa karena project video kami berhasil dan itu akan jadi bahan saat kami kembali kemakassar nanti hahahhaa….
Pantai Baloiya

Puas menikmati berbaur dengan anak-anak nelayan desa padang, kami melanjutkan perjalanan kami menuju Pantai Baloiya. Ohya perjalanan dari pelabuhan menuju pantai Baloiya, melewati landasan Bandara Aroeppala yang membuat heran, landasan ini terbuka untuk umum bahkan bisa dilewati oleh kendaraan berlalu lalang, dan tanpa menyia-yiakan kami mengabadikan beberapa gambar, kapan lagi bisa bebas berfoto-foto di kawasan landasan lapangan terbang seperti ini hahhaa… Setelah itu baru kami menuju Pantai Baloiya.


Pantai Baloiya yang menjadi pemberhentian terakhir kami dihari itu setelah melewati beberapa tempat-tempat terbaik selayar, Pantai Baloiya berjarak sekitar 10 km kearah selatan kota benteng. Melihat pantai Baloiya ini mengingatkan pada Tanah Lot Bali, walau air surut tapi itu membuat kami dengan mudah mencapai tebing seperti pulau kecil yang berjarak hanya berapa meter dari bibir pantai, namun di senja hangat yang memamerkan Siluet pulau dengan matahari terbenam sebagai latarnya membuat segala rasa lelah berkeliling sepanjang hari terasa hilang begitu saja diganti dengan tak hentinya kutipan lensa kamera menyimpan dalam memorynya setiap sisi dari pantai baloiya ini.

Selanjutnya pulang dari pantai Baloiya, saya dan kak gilang bersama om Acca singgah di Selayar Island Resort sekedar mengunjungi om taning dan jelas terlihat penginapan yang sangat indah yang luas serta begitu klasik, yang memang niat kami untuk menginap di resort itu karena pertimbangan, besok subuh ternyata om acca harus berangkat ke Makassar dan tak bisa menemani kami hingga akhir, juga karena rencana kami besok pagi yaitu ingin ke pulau Liang kereta dan pantai panjang yang jalur keberangkatannya dari resort ini. dan juga karena mulai besok subuh teman-teman yang lainnya akan berangkat ke tinabo. Jadi kami memilih menginap di penginapan itu selama 2 malam yang pastinya dengan sedikit melobi-lobi kepada om taning yang baik hati hehehe…
Sebelum pulang kami mencoba nasi santan andalan selayar, yaitu nasi santan yang dimakan dengan ikan sebagai pasangannya. kemudian pulang kerumah saudaranya om acca untuk mengambil barang dan berpamitan dengan keluarganya om acca. Setelah itu untuk ke resort, kami diijinkan memakai motor om acca untuk pergi ke resort selama om acca di Makassar,kami sungguh beruntung. jarak yang ditempuh dari kampung om acca ke resort cukup jauh hamper sekitar 1,5 jam dan saat itu memang sudah tengah malam, om acca menyuruh kami berhati-hati saat diperjalanan karena biasa katanya babi turun dari gunung untuk minum air di pantai,, Whatt?? entah ini om acca kembali mengoda kami atau sungguhan haha... Sepanjang jalan yang kami lewati membuat was-was karena begitu gelap dan dingin tapi tetap membuat kami berlaju kencang dengan harapan akan beristirahat santai nantinya di resort.


Sesampainya kami di resort, kami langsung menuju dikamar yang sudah disiapkan. Kamar yang sederhana dengan ranjang, meja, bahkan kursi-kursinya terbuat dari bambu terutama saat kami keluar dari terasnya terlihat hamparan laut bahkan sisi lain pantai Baloiya. Setelah selesai bersih-bersih, karena stasiun televisi yang tidak jelas kami memilih duduk-duduk diluar teras, menikmati hembusan angin laut dimalam hari. Karena setibanya kami disana sudah sangat larut, setelah itu kami memilih beristirahat karena keesokan harinya kami sudah memiliki schedule bersama pak Tyson pemilik kapal yang akan membawa kami ke pantai liang kereta.
Terbangun dipagi hari yang cerah membuat kami sangat bersemangat, kami sudah janjian dengan pak Tyson jam 8 pagi, untuk ke pantai liang kereta kami menyewa kapal 250ribu untuk Pulang dan Pergi. Menaiki kapal kayu pak Tyson hanya berdua dengan kak gilang serasa kami betul-betul menguasai kapal itu, mulai dari berfoto didepan maupun didalam kapal yang menampakan seluruh tampak dengan latar lautan luas.
“Bahagia itu sederhana, ketika oranglain kerja kita malah liburan…” salah satu captionku di akun instagramku yang mengutip kata-kata keren om acca daeng petta.

Liang Kereta dan Pantai Panjang 

Perjalanan yang ditempuh sekitar 15 menit dari dermaga resort hingga ke liang kereta. Tapi hanya sekedar melewati liang kereta karena kebetulan saat itu weekend jadi agak rame, pak Tyson langsung membawa kami menuju pantai panjang.
Sebuah pantai kosong dengan hamparan pasir pantai yang putih bersih, dibelakangnya berjejer pohon-pohon kelapa yang tak terlalu tinggi, dan tebing batuan karst yang ditumbuhi rumput-rumput hijau. Dengan menjanjikan kami akan dikasi kelapa muda,kami ditinggalkan dipulau itu karena pak Tyson harus mengambil penumpang lain.. hahaha dan dengan begitu saja kami mengikuti mau pak Tyson… ditinggal hanya berdua tak kami sia-siakan bermain dihamparan pasir putih, seakan Private island kami berfoto gila-gilaan, membuat video slow-motion, bermain bersama kapal-kapalan kayu rakit-rakitan dari gabus maupun ranting-ranting sisa yang entah dibuat oleh siapa, hingga naik ke daerah tebing karst yang membuat kami harus mencari sendal-sendal diantara sampah yang bisa digunakan walau berbeda mulai dari bentuk dan warna hahahaha……

Tapi sesampainya kami diatas dengan beralaskan rumput-rumput dan barang-barang bekas karena lumayan batu karst yang tajam, kami bersantai bersama hembusan angin laut sambil menikmati hamparan lautan hijau nan biru di depan kami, membuat lamunan melayang tinggi, hingga terkadang kami terkejut saat manta lewat diantara pasir dibawah tebing, ataukah mengamati elang yang terbang namun terkejut saat tiba-tiba mendekati permukaan air untuk menerkam ikan tuing-tuing yang sedang berterbangan yang membuat kak gilang langsung sigap mau mengambil kamera tapi kemudian sang elang gagal menangkap mangsa hahahhaa penonton kecewa.
Setelah cukup lama bermalas-malasan di Pantai panjang, kami memilih menghubungi pak Tyson untuk menjemput kami ke liang kereta. Namun lalu kami sesali, saat sampai di liang kereta ternyata pengunjung semakin banyak dan banyak sampah dimana-mana. Seakan merindukan keheningan pantai panjang dan memilih ingin kembali lagi kesana hahaha…

Namun kami tetap mencoba menikmatinya, karena ramainya kak gilang memilih berkeliling untuk foto-foto sekalian menjaga barang dan saya memilih turun untuk sekedar snorkeling karena sebenarnya kami lengkap membawa masker dan fins namun sayangnya kak gilang tidak turun karena mengingat barang-barang bawaan kami… namun suatu hari kami harus kemballi lagi keselayar untuk bisa menikmati keindahan lautnya, biarlah kesempatan kali ini kami menikmati keindahan landscape pulau selayar.


Setelah puas menikmati Pulau Liang Kereta, kami meminta dijemput oleh pak Tyson dengan tentu saja menagih janji kelapa muda kami. Kembali ke pantai panjang sekedar mengambil kelapa.
Begitu senangnya diriku mendapatan kelapa 1 keranjang penuh. Sesampainya kami didermaga, dikiranya kami akan dibukakan kelapanya ternyata dikasi begitu saja, agak kaget kami binggung hahaha karena saya maupun kak gilang belum pernah memotong buah kelapa. Dengan meminjam parang ibu-ibu yang tinggal dekat resort, akhirnya merasa sebagai seorang lelaki, kak gilang yang membuka buah kelapa untuk pertama kalinya hahaha anak kota dari bandung yang menjelajah pelosok pulau selayar, mukanya seakan-akan baru menemukan mainan baru yang binggung bagaimana cara memecahkannya mukanya jelas aneh, saking senangnya akhirnya menemukan celah untuk keluarnya air kelapa langsung diteguk begitu saja hahahhaa….

Setelah menghabiskan hampir 4 buah kelapa, kami memberikan 1 buah kelapa kepada ibu pemilik parang sebagai imbalan sudah mau meminjamkan parangnya untuk kami. Setelah itu kami memilih pulang ke resort untuk bersih-bersih sedari menunggu datangnya senja.
Menunggu datangnya senja dari balkon teras kami, bagai akan perang menunggu keindahan petang pulau selayar membuatkan kami mempersiapkan beberapa peralatan entah itu tripot untuk kamera ataukah  motion control untuk merekam slow-motion hingga matahari tengelam diantara garis cakrawala. Tak bisa dikatakan namun ikutlah menikmati senja petang itu besama kami dengan kutipan lensa kamera yang tak bosannya berbunyi karena betapa kagum pemiliknya akan keindahan senja petang sore itu.
Setelah Puas menikmati indahnya senja terakhir kami diselayar, karena subuh besok kami sudah harus bersiap-siap pulang ke Makassar dengan sudah memesan kursi di travel fiska. Malam ini kami nikmati dengan berjalan-jalan berputar-putar dikota benteng sekedar untuk mencari semangkok bakso, dan yang entah ini bisa disebut lucu atau bodoh, tukang bakso pertama yang kami lihat, dengan alasan mau mencari bakso lain karena warung baksonya kelihatan sepi, kami berkeliling mutar-mutar kota hampir 4 kali yang akhirnya berujung di warung bakso yang sama karena sepertinya itu satu-satunya warung bakso yang bisa kami temukan hahahaha….
Setelah kenyang, kami pulang untuk Packing dan beristirahat karena keesokkan harinya kami akan kembali ke Makassar meninggalkan keindahan pulau selayar yang mengagumkan. Ohya saat terbangun subuh kami disajikan Bulan purnama yang begitu besar, yang rasanya cukup hanya dinikmati keindahanya dengan mata ini, tak ada niat untuk mengambil gambar atau apapun karena seakan itu adalah hadiah sebelum kepulangan kami besok. Yang setelah sampai di makassar betapa terkejutnya kami, muncul berita entah itu di internet ataukah di instagram lewat kutipan gambar-gambar mengenai Newmoon yang hadir hanya 4 tahun sekali hahaha keberuntungan seakan sedang berada dipihak kami...
3 hari rasanya tak cukup untuk kami menikmati pulau selayar ini, mungkin karena kami belum merasakan keindahan bawah lautnya yang terkenal. Karena saat kedatangan kami, sedang angin barat jadi pantai timurnya lagi berombak, sedangkan terbaiknya bawah laut pulau selayar ada di daerah timurnya. Selanjutnya pulau selayar masih menjadi tempat untuk kembali.

Matahari yang sama tapi tak pernah terlewatkan, karena setiap tempat memiliki matahari yang berbeda, beda kangennya, beda kesannya dan beda keindahannya dengan pengalaman yang berbeda pula.


" We don't remember days, we remember moments " 
_Cesare Pavese_


Kontak Person :
Fiska Travel : 085395641809
Tanjung Bara Resort : 081355800412
Pak Tyson ( Kapal ke Liang Kereta) : 081355639150

2 comments:

  1. Thks infonya. Ditunggu cerita perjalanan berikutnya

    ReplyDelete