Wednesday, 24 April 2013

Pesona Puncak Gunung Bawakaraeng 17-19 April 2013

Salam Lestari buat kita semua...
ku awali salamku untuk bercerita tentang perjalanan mendakiku ke puncak Gunung Bawakaraeng.. Sebuah pendakian yang luar biasa bersama Niko,Randi munyak, dan Ubur, begitulah hidup haruslah dinikmati.!!  

 
 
Gunung bawakaraeng terletak di perkampungan lembanna, masuk dalam kawasan puncak Malino, Kabupaten Gowa, Sulawesi selatan. 
Diambil dari bahasa masyarakat sekitar yaitu bahasa makassar, Bawa artinya mulut, karaeng artinya Tuhan.. Jadi Gunung Bawakaraeng yaitu Gunung Mulut Tuhan.
Gunung bawakaraeng dengan ketinggian sekitar 2.830 meter dari permukaan laut ini biasa menjadi jalur pendakian, terdiri dari rentetan bukit-bukit yang berjejer megah, dan untuk sampai kepuncak harus menelusuri 2 bukit dengan 10 Pos jalur pendakian. 
Rabu, 17 April 2013 
Kami berempat, saya bersama Niko, Randi Munyak, dan Ubur Mengawali perjalanan kami dari makassar membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam menuju daerah malino,yang kami tempuh dengan mengunakan kendaraan bermotor. sesampainya kami diperkampungan Lembanna, disana biasa para pendaki termasuk kami menitipkan kendaraan motor pada rumah penduduk setempat yang biasa kami sebut dengan tata (untuk bapak) dan emak (untuk ibu). 
 
setelah sedikit bertegur sapa dengan tata, kami langsung memulai perjalanan kami, sekitar jam 2 lewat kami mulai menelusuri pos demi pos yang berupa jalanan setapak bebatuan yang dihiasi semak-semak dan pepohonan yang menjulang tinggi, banyak akar-akar pohon, tanah licin dan bebatuan yang dipenuhi lumut, yang harus dengan hati-hati melewatinya, tiap pos memiliki kesulitan yang berbeda, dari jalan yang agak landai hingga pendakian sampai penurunan hingga akhirnya kami tiba di pos 5 sekitar jm 6 saat magrib, sayangnya di pos 5 sunset belum dapat terlihat jelas.. 

 


Pos 5 lah tempat kami akan ber-camp, dimana kami sudah bersiap-siap untuk membuka tenda dan mulai memasak air untuk menghangatkan tubuh oleh karena udara yang begitu dingin. Setelah makan malam yang terasa sangat nikmat, karena beberapa dari kami tak sarapan bahkan tak makan siang demi menempuh jalan dan waktu agar dapat bermalam di pos 5. Malam yang dingin dibalut langit yang dipenuhi taburan bintang dan bulan sabit begitu terasa damai ketika api unggul mulai dinyalakan. 

 
 
 kami bercerita, bercanda tawa bersama dengan gelas kopi mereka dan segelas susu energenku, semakin malam semakin dingin hingga akhirnya kami memilih untuk beristirahat mengumpulkan tenaga untuk kembali menapaki setapak demi setapak menuju ke puncak.

Kamis, 18 April 2013
Pagi hari kami awali dengan menyantap sarapan walau hanya mie instan namun cukuplah untuk menghangatkan perut dipagi hari, setelah itu kami melanjutkan kembali perjalanan...
 
 
Pos 5 ke pos 6, perjalanan mulai mendaki yang banyak dihiasi dengan pohon-pohon tumbang dan akar-akar pohon yang licin oleh lumut.
 
Pos 6 ke pos 7, Pendakian masih melewati daerah hutan yang lumayan lebat, perjalanan kadang landai dan kemudian mendaki, waktu yang ditempuh cukup jauh sekitar 2 jam. kami menyebutnya landai-landai memabukkan hahahaa....
 
Pemandangan di Pos 7 sangat indah, inilah puncak pertama yang ditemui sebelum puncak yang sebenarnya, karena daerahnya yang terbuka dan begitu indah. Namun saat kami naik pos 7 lumayan ditutupi oleh kabut, dan dapat kita lihat begitu jauh perjalanan yang telah kami telusuri.mengagumkan..!

 
Pos 7 menuju ke pos 8, jalur mulai naik turun namun terdapat sungai kecil yang biasa disebut dengan Telaga Bidadari, konon kata orang jika kita mencuci muka dan meminum air di telaga itu maka akan lancar jodohnya.. hanya mitos namun pasti dilakukan, karena disinilah kami bersih-bersih sekedar mencuci muka ataukah mengisi persediaan air untuk bekal perjalanan.
 

dari pos 8 ke pos 9, Setelah melewati padang savana dan ada kebun edelweis maka akan Pos 9 di tempuh kurang lebih 1 jam perjalanan.
 
Pos 9 menuju ke Pos 10, pemandangan yang begitu indah, jalurnya melewati bebatuan-bebatuan besar yang dapat ditempuh kurang lebih setengah jam hingga Pos 10 yaitu Puncak Bawakaraeng.
Ketika sampai dipuncak hal pertama yang mengherankan kami adalah, ada sepasang anjing yang berada dipuncak itu, satu berwarna coklat dan yang satu berwarna hitam. Sampai sekarang masih ada tanda tanya besar bagi kami,Siapakah yang membawa naik anjing itu tinggal hingga dapat bertahan hidup diatas gunung yang dingin itu.hahahahaa itu salah satu tanda tanya yang luar biasa dan mengherankan... 
 
kami tak langsung naik kepuncak, karena udara dan langit yang mulai gelap, kami lebih memilih menyiapkan tenda, api unggun, masak air dan makanan. Hanya kami team yang ada dipuncak, mungin karena bukan hari weekend, berasa kamilah yang memiliki puncak bawakaraeng saat itu..
 
 
Saat mengambil air di sumur, salah satu sumber air di atas puncak, tepat ketika Sunset bermekaran diatas awan yang bergelembung bagai kapas dan dihiasi pepohonan khas pegunungan,merupakan saat yang tepat untukku mengabadikan moment yang indah ini..
 
 
 
 
 
Kami kembali ditemani malam yang dingin namun dibungkus oleh langit yang berkabut, hanya ada beberapa bintang dan bulan yang terlihat samar-samar.. hanya saja kali ini dinginnya beda dengan pos 5, dipuncak dinginnya jauh lebih menusuk.

Jumat, 19 April 2013
Ketika mentari pagi kembali menyapa kami dengan suara dedaunan, embun yang basah dan kicauan burung yang membuat pagi itu begitu luar biasa bagiku,, ingin bangun lebih awal untuk melihat Sunrise, namun langit pagi itu ditutupi oleh kabut yang tersamarkan oleh awan...
konon katanya jika kita buang air besar di puncak gunung, mitosnya bahwa kau akan kembali lagi menginjak gunung itu suatu hari nanti.. karena bgitu terpana dengan keindahan bawakaraeng, karena penasaran saya mengikuti mitos itu, entah apa akan berlaku juga pada diriku... akankan sebuah mitos menjadi sebuah kenyataan, kita liat saja nanti hehehe...
Setelah kami selesai menyiapkan sarapan dengan chef niko bersama nasi gorengnya hahahhaa, kami sarapan bersama dan bersiap-siap paking kan barang-barang untuk pesiapan turun gunung...
Setelah selesai sarapan, kami mulai naik ke atas puncak...
 
 
Puncak Bukit yang hijau dengan dihiasi beberapa batu gunung disekitarnya dan pepohonan yang sudah terpangkas pendek, namun Trianggulasi (tanda ketinggian) di puncak Bawakaraeng lah yang berdiri megah ditengah-tengah Puncak Gunung Bawakaraeng membuatku memeluk eratnya.
 
 
Bukan gifo namun keinginan kuat untuk mengabadikan moment itu hingga Semi tak berhenti mengutip dan membingkai gambar kami dihiasi puncak gunung bawakaraeng bersama gumpalan awan yang bagai memenuhi sekitar kami, dan rentetan dan jejeran pegunungan yang menjulang tinggi maupun daratan hijau disekitarnya,,, 

sejauh mata memandang hanya warna putih awan yang mengumpal dan birunya langit juga hijaunya pegunungan yang berjejer megah membuatku begitu kagum akan kemegahan dan begitu luar biasanya Ciptaan Yang Maha Kuasa. 
 
 
 

 
 
 
 
Sisa tali krusik yang kubuatkan sebagai gelang, kutinggalkan dipohon kecil dipuncak sebagai tanda bahwa Tasya sudah datang dan menginjakan kaki di Puncak Gunung Bawakaraeng, tak ada yang tahu namun diriku dan alam yang mengetahuinya, Smoga Next time saat ke puncak lagi, tali krusik itu masih melingkar erat diatas hahahhaa...
 
Juga ada yang mereka sebut sebagai batu kelamin, yaitu batu yang berbentuk kelamin wanita dan kelamin pria, hehehee katanya bisa membawa keberuntungan jodoh hahahaa...
Setelah Puas mengagumi dan mengabadikan ciptaan Tuhan, Kami bersiap-siap untuk turun Gunung,, 
 
 
 
 
Kali ini kami berencana untuk langsung turun ke lembanna,,,,
Jalur yang sama kembali dilewati, namun awal naik kepuncak kami lebih banyak mendapat jalur mendaki, namun setelah akan turun gunung maka jalur menjadi sebaliknya, lebih banyak jalur menurun. Ketika kita lebih banyak mendapatkan trek pendakian maka lebih berat pada nafas alhasil nafas terasa begitu ngos-ngosan, berbeda dengan trek penurunan maka lebih berat beban pada lutut dan daerah sekitar paha. Namun 1 hal yang selalu menyelamatkanku ketika trek pendakian, yaitu coki-coki coklat. jika kita terlalu banyak meminum air malah membuat kita semakin cepat haus, namun jika kita mengisap coki-coki membuat nafas lebih jarang keluar dari mulut sehingga nafas lebih teratur. hehehehe yahh itu menurutku sih... 
Saat perjalanan turun mulai terasa berat ketika dari pos 9 ke pos 8, mungkin karena rasa lelah yang belum begitu hilang oleh karena pendakian awal dan kabut mulai turun, ditambah lagi ketika kami sampai di puncak pos 7 hujan gerimis mulai turun menguyur kami, bagai hujan yang balas dendam karena beberapa hari tak turun, hingga kami akhirnya memakai mantel dibalik baju lapangan kami..
Kami memilih beristirahat dan makan siang di Pos 5, sekedar mie instan yang dalam  1 tempat yang di bagi 4, oleh karena makan kami yang telah habis disikat oleh kedua ekor anjing si hachiko saat kami pergi kepuncak untuk foto-foto, untungnya kami masih disisakan 3 mie instan untuk bekal makan siang... Akhirnya dengan apa adanya, lumayan menghangatkan tubuh...

Namun yah memang tubuh akan ada batasnya, di awal perjalanan pos 5 ke pos 4 kakiku mulai keram, untuk jalan menurun saja rasanya begitu berat,mungkin karena pengaruh diguyur hujan yang tak henti dan saat makan kami duduk jongkok,dengan kendala kesulitanku berjalan,,, Namun Puji Tuhan kakiku mulai normal saat pertengahan pos 5 ke pos 4 apalagi dengan pikiran bahwa jalurnya tak seberat pos 10 ke pos 5,jalur akan lebih landai. Semangat juang yang membara menemani perjalananku, berusaha tak berhenti selama perjalanan agar tdk kaku lagi namun karena randy yang sakit kepala mungkin krn pengaruh hujan yang deras dan banyaknya binatang pacet serupa lintah yang mulai menempel di tangan-tangannya akhirnya kami sedikit beristirahat... 
Setelah kembali melanjutkan perjalanan, hal yang betul-betul terasa berat ketika dari pos 1 menuju lembanna,, ketika itu mungkin diriku merasakan sudah sampai batasnya, namun oleh karena kaki yang terus harus berjalan dan punggung yang memikul beban depek dan hujan yang deras tak henti-hentinya... 
Hingga sampai lembanna, kami langsung beristirahat dirumah penduduk, saat sampai tubuhku sudah bergetar karena kedinginan, tak menunggu lama segera mandi adalah pilihan yang tepat untuk meredam rasa dingin itu.dan sambil menunggu makanan siap, saya sedikit menghangatkan diri di tungkunya emak hehehee.... Karena cuaca yang terus diguyur hujan, demi amannya kami memilih tinggal beristirahat, dan sabtu besok baru kembali melanjutkan perjalanan pulang ke makassar.

Puncak Gunung Bawakaraeng menjadi sebuah pengalaman yang berharga dan begitu luar biasa, yang tak berhenti membuatku kagum dan menyadari akan banyak hal, Mendaki adalah sebuah cara manusia untuk melihat betapa luar biasanya Ciptaan Tuhan yang begitu menakjubkan.
Pegal-pegalnya badan dan rasa dingin yang masih tinggal membuatku mengakui betapa sulitnya perjuangan yang didapatkan untuk sebuah keindahan.  
Betul katanya, " Mendaki Gunung adalah Pilihan,tapi Turun Gunung adalah sebuah keharusan " 
 
Ucapan Terimakasih buat 3 orang ubur, munyak, dan niko yang telah menemaniku hingga kaki ini akhirnya menapaki Puncak Gunung Bawakaraeng.. 




  terutama buat niko, thanks bodok.. 
ini pengalaman berharga buatku, disini kulihat bagaimana diriku mampu berjuang dengan kakiku sendiri hingga mencapai puncak, tapi kutau dirimu selalu ada dibelakangku menjagaku sebagaimanapun diriku berusaha kuat menjalani semuanya hingga akhir.
 
 
Hal yang Luar Biasa adalah ketika dirimu menikmati Hidup dengan cara yang begitu Luar Biasa, hingga kelak akan ada cerita berharga yang dapat dirimu ceritakan buat anak cucumu.
 
Terima kasih Tuhan buat keindahan alam ciptaanmu yang begitu Luar Biasa.
"Tuhan Berserta Orang-orang berani"

4 comments:

  1. mantap.. keren :) (y)

    munkin klu ada waktu bisa berkunjung d'blog cerita petualanganku :)
    ngebolanggunung.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. iyaa.. makasih banyak ya sudah berkunjung di blog ini.. :)

    ReplyDelete